Rabu, 22 Juli 2009

Musik Etnik


Maestro Gending Semarangan


Oleh : Heru Emka



Bila menyebut nama (almarhum) Ki Nartosabdho, biasanya orang lebih sering membicarakan sebagai seorang dalang ternama. Padahal Ki Nartosabdho juga serorang maestro gendhing Jawa populer, bahkan dianggap sebagai pelopor seni karawitan gaya baru (gagrak anyar). Hal inilah yang hingga sekarang sering dilupakan.

Setting budaya dalam kehidupan sosial di Jawa Tengah pada awal tahun ’50-an, yang perlahan-lahan menyerap wacana modernisme yang mulai mengembang sebagai konsekuensi dinamika sosial politik yang terjadi paska Kemerdekaan, membuat gending Jawa tradisional, yang bersumber pada tradisi tembang macapatan tradisi literer Keraton seperti Serat Wulangreh atau Wedhatama, tersaingi oleh kemunculan gending-gending Jawa populer yang lebih cepat akrab di telinga masyarakat.

Gending Jawa populer yang diciptakan oleh Ki Nartosabdho ini, sebenarnya juga merupakan respon musikal Ki Narto sebagai seorang budayawan Jawa terhadap suasana kultural-politik yang ‘baru’. Ki Narto sebagai inovator gending Jawa, memilih melakukan pendekatan yang populis Maraknya lagu-lagu pop sebagai klangenan baru masyarakat di perkotaan Jawa tengah membuat popularitas gending Jawa ( yang punya porsi dan penggemar tersendiri, seperti sajian acara Uyon-Uyon yang dulu disiarkan secara rutin di RRI Semarang, misalnya) sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

Ki Nartosabdho yang ingin agar gending Jawa tetap diminati masyarakat, pun membuka diri terhadap berbagai kemungkinan yang bisa memperkaya wacana musikal gending Jawa, dengan membentuk grup karawitan Condong Raos di tahun 1961 dan menciptakan inovasi yang menyegarkan. Selain melakukan pengayaan pada model tempo dan ‘sinkopasi’ kendangan yang lebih dinamis – dalam hal ini Ki Narto bahkan dikenal sebagai maestro kendang yang jempolan -, dia juga membuka diri terhadap warna musik lain, baik yang berasal dari Barat (samba) atau pun gaya musik etnis kita lainnya, seperti gaya karawitan Sunda, Bali atau Jawa Timur-an.

Maka Ki Nartosabdho pun dikenali dengan gending gagrak anyar ciptaannya, yang antara lain bertempo cepat dalam suasana yang sigrak (dinamis), dengan durasi yang lebih pendek ( hampir menyamai durasi rata-rata lagu pop Indonesia), serta lirik lagu yang lebih ngepop, yang berkisah tentang peristiwa dan pengalaman yang bersifat personal dalam keseharian hidup manusia Jawa modern. Maka, gending Ki Nartosabdho pun segera menandai kebangkitan gendhing Jawa Populer.

Sebut saja beberapa judul gending ciptaannya, seperti Swara Suling, Praon,- yang dalam buku Gending Jawi soho Dolanan Gagrak Enggal anggitanipun Ki Nartosabdho, (diterbitkan untuk memperingati 4 windu Paguyuban Ngesti Pandowo, 1969) tertulis dengan judul Ayo Praon, juga gending lainnya : Aja Lamis, Sapu Tangan, Kembang Glepang, Glopa-Glape atau Lumbung Desa,- pun menjadi hit abadi yang hingga sekarang ini masih diputar di radio dan dimainkan – tak saja di berbagai pagelaran kesenian Jawa – namun juga dibawakan dalam irama pop, keroncong atau jaipongan. Gending Swara Suling bahkan pernah dimainkan oleh Tamam Husein dan Bubi Chen dalam irama jazz.

Sebagai seniman dengan pribadi yang hangat, humoris dan romantis, Ki Narto juga piawai mencipta gending percintaan seperti Aja Lamis, Mari Kangen, Sapu Tangan, Janjine Piye, Aku Ngimpi dan sebagainya. Nuansa keseharian orang Jawa yang merasuki jaman modern pun terasa pada gending Lesung Jumengglung, Bemo Semarang dan sebagainya. Sebagai dalang kondhang, Ki Narto amat piawai menampilkan gaya bahasa yang hidup, ungkapan yang segar, dan iidiom bahasa yang menggigit. Dalam gending Kembang Glepang yang bergaya Banyumasan itu, dia menampilkan idiom bahasa yang tak kalah greget dengan sastrawan Indonesia terkemuka, seperti ‘ nyumbang geni sak wuwungan, nyumbang banyu sakuranjang’.

Sungguh nuansa yang absurd bila kita menelan begitu saja aforisma dalam lagu ini tentang ‘ menyumbang api sebubungan rumah ( yang amat berbahaya) atau menyumbang air sekeranjang ( jelas sia-sia karena airnya pasti terbuang semua). Ini menunjukkan bila Ki Narto sungguh piawai bermain pasemon. Gending Glopa-Glape misalnya, yang berkisah tentang para binatang yang lupa diri, secara jenaka merupakan pasemon dan sebuah kritik sosial yang menyindir perilaku serakah serta nafsu kuasa yang tak terkendalikan yang pada akhirnya hanya membawa kebinasaan.

Musikolog Judith Becker dalam bukunya; Traditional Music in Modern Java ( The University Press of Hawaii, 1980) menyebutkan bila kemampuan menciptakan gending-gending popular yang diterima oleh masyarakat Jawa secara luas membuat Pemerintah kemudian menggandengnya untuk menciptakan gending yang bisa mengajak masyarakat luas untuk menjadi ‘partisipan aktif pembangunan’ ( ini memang istilah politik khas Pemerintah Orde Baru). Beberapa gending ciptaannya seperti Sensus Pertanian, Transmigrasi, Bahagia KB atau Eka Prasetya Panca Karsa pun menunjukkan bahwa Ki Narto juga diakui Pemerintah sebagai komposer (pangrawit) penting, bahkan gending seperti Identitas Jawa Tengah penciptaannya diawali dengan sebuah SK dari Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu. Maka secara unik Ki Nartosabdho juga mengalami relasi pujangga dan patron penguasa, sebagaimana yang terjadi pada para pujangga istana seperti Mpu Sedah atau Mpu Panuluh di jaman dulu.

Walau begitu, bila kita cermati benar semua gending yang diciptakan oleh Ki Nartosabdho menghembuskan nafas kerakyatan yang kuat. Seniman yang dilahirkan pada tahun 1925 di desa Wedi, Jawa Tengah ini lebih bangga dengan perannya sebagai seorang pengendang dan dalang, sama sekali jauh dari pretensi untuk menjadi seorang ‘pujangga penguasa’. Kini, 24 tahun sepeninggalnya ( penerima Bintang Mahaputra ini meninggal dunia pada 7 Oktober 1985) gending gending ciptaannya masih mewarnai blantika musik Indonesia. Banyak sudah bermunculan dalang-dalang kondang yang memadukan seni karawitan dengan peralatan musik elektronik, yang bermaksud menghadirkan idiom musikal yang baru bagi pagelaran wayang mereka. Namun keunggulan Ki Nartosabdho sebagai maestro gending gaya Semarangan, hingga kini belum tergantikan.

Heru Emka, peminat kajian budaya, tinghgal di Semarang.

Musik Etnik


Maestro Gending Semarangan


Oleh : Heru Emka



Bila menyebut nama (almarhum) Ki Nartosabdho, biasanya orang lebih sering membicarakan sebagai seorang dalang ternama. Padahal Ki Nartosabdho juga serorang maestro gendhing Jawa populer, bahkan dianggap sebagai pelopor seni karawitan gaya baru (gagrak anyar). Hal inilah yang hingga sekarang sering dilupakan.

Setting budaya dalam kehidupan sosial di Jawa Tengah pada awal tahun ’50-an, yang perlahan-lahan menyerap wacana modernisme yang mulai mengembang sebagai konsekuensi dinamika sosial politik yang terjadi paska Kemerdekaan, membuat gending Jawa tradisional, yang bersumber pada tradisi tembang macapatan tradisi literer Keraton seperti Serat Wulangreh atau Wedhatama, tersaingi oleh kemunculan gending-gending Jawa populer yang lebih cepat akrab di telinga masyarakat.

Gending Jawa populer yang diciptakan oleh Ki Nartosabdho ini, sebenarnya juga merupakan respon musikal Ki Narto sebagai seorang budayawan Jawa terhadap suasana kultural-politik yang ‘baru’. Ki Narto sebagai inovator gending Jawa, memilih melakukan pendekatan yang populis Maraknya lagu-lagu pop sebagai klangenan baru masyarakat di perkotaan Jawa tengah membuat popularitas gending Jawa ( yang punya porsi dan penggemar tersendiri, seperti sajian acara Uyon-Uyon yang dulu disiarkan secara rutin di RRI Semarang, misalnya) sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan.

Ki Nartosabdho yang ingin agar gending Jawa tetap diminati masyarakat, pun membuka diri terhadap berbagai kemungkinan yang bisa memperkaya wacana musikal gending Jawa, dengan membentuk grup karawitan Condong Raos di tahun 1961 dan menciptakan inovasi yang menyegarkan. Selain melakukan pengayaan pada model tempo dan ‘sinkopasi’ kendangan yang lebih dinamis – dalam hal ini Ki Narto bahkan dikenal sebagai maestro kendang yang jempolan -, dia juga membuka diri terhadap warna musik lain, baik yang berasal dari Barat (samba) atau pun gaya musik etnis kita lainnya, seperti gaya karawitan Sunda, Bali atau Jawa Timur-an.

Maka Ki Nartosabdho pun dikenali dengan gending gagrak anyar ciptaannya, yang antara lain bertempo cepat dalam suasana yang sigrak (dinamis), dengan durasi yang lebih pendek ( hampir menyamai durasi rata-rata lagu pop Indonesia), serta lirik lagu yang lebih ngepop, yang berkisah tentang peristiwa dan pengalaman yang bersifat personal dalam keseharian hidup manusia Jawa modern. Maka, gending Ki Nartosabdho pun segera menandai kebangkitan gendhing Jawa Populer.

Sebut saja beberapa judul gending ciptaannya, seperti Swara Suling, Praon,- yang dalam buku Gending Jawi soho Dolanan Gagrak Enggal anggitanipun Ki Nartosabdho, (diterbitkan untuk memperingati 4 windu Paguyuban Ngesti Pandowo, 1969) tertulis dengan judul Ayo Praon, juga gending lainnya : Aja Lamis, Sapu Tangan, Kembang Glepang, Glopa-Glape atau Lumbung Desa,- pun menjadi hit abadi yang hingga sekarang ini masih diputar di radio dan dimainkan – tak saja di berbagai pagelaran kesenian Jawa – namun juga dibawakan dalam irama pop, keroncong atau jaipongan. Gending Swara Suling bahkan pernah dimainkan oleh Tamam Husein dan Bubi Chen dalam irama jazz.

Sebagai seniman dengan pribadi yang hangat, humoris dan romantis, Ki Narto juga piawai mencipta gending percintaan seperti Aja Lamis, Mari Kangen, Sapu Tangan, Janjine Piye, Aku Ngimpi dan sebagainya. Nuansa keseharian orang Jawa yang merasuki jaman modern pun terasa pada gending Lesung Jumengglung, Bemo Semarang dan sebagainya. Sebagai dalang kondhang, Ki Narto amat piawai menampilkan gaya bahasa yang hidup, ungkapan yang segar, dan iidiom bahasa yang menggigit. Dalam gending Kembang Glepang yang bergaya Banyumasan itu, dia menampilkan idiom bahasa yang tak kalah greget dengan sastrawan Indonesia terkemuka, seperti ‘ nyumbang geni sak wuwungan, nyumbang banyu sakuranjang’.

Sungguh nuansa yang absurd bila kita menelan begitu saja aforisma dalam lagu ini tentang ‘ menyumbang api sebubungan rumah ( yang amat berbahaya) atau menyumbang air sekeranjang ( jelas sia-sia karena airnya pasti terbuang semua). Ini menunjukkan bila Ki Narto sungguh piawai bermain pasemon. Gending Glopa-Glape misalnya, yang berkisah tentang para binatang yang lupa diri, secara jenaka merupakan pasemon dan sebuah kritik sosial yang menyindir perilaku serakah serta nafsu kuasa yang tak terkendalikan yang pada akhirnya hanya membawa kebinasaan.

Musikolog Judith Becker dalam bukunya; Traditional Music in Modern Java ( The University Press of Hawaii, 1980) menyebutkan bila kemampuan menciptakan gending-gending popular yang diterima oleh masyarakat Jawa secara luas membuat Pemerintah kemudian menggandengnya untuk menciptakan gending yang bisa mengajak masyarakat luas untuk menjadi ‘partisipan aktif pembangunan’ ( ini memang istilah politik khas Pemerintah Orde Baru). Beberapa gending ciptaannya seperti Sensus Pertanian, Transmigrasi, Bahagia KB atau Eka Prasetya Panca Karsa pun menunjukkan bahwa Ki Narto juga diakui Pemerintah sebagai komposer (pangrawit) penting, bahkan gending seperti Identitas Jawa Tengah penciptaannya diawali dengan sebuah SK dari Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu. Maka secara unik Ki Nartosabdho juga mengalami relasi pujangga dan patron penguasa, sebagaimana yang terjadi pada para pujangga istana seperti Mpu Sedah atau Mpu Panuluh di jaman dulu.

Walau begitu, bila kita cermati benar semua gending yang diciptakan oleh Ki Nartosabdho menghembuskan nafas kerakyatan yang kuat. Seniman yang dilahirkan pada tahun 1925 di desa Wedi, Jawa Tengah ini lebih bangga dengan perannya sebagai seorang pengendang dan dalang, sama sekali jauh dari pretensi untuk menjadi seorang ‘pujangga penguasa’. Kini, 24 tahun sepeninggalnya ( penerima Bintang Mahaputra ini meninggal dunia pada 7 Oktober 1985) gending gending ciptaannya masih mewarnai blantika musik Indonesia. Banyak sudah bermunculan dalang-dalang kondang yang memadukan seni karawitan dengan peralatan musik elektronik, yang bermaksud menghadirkan idiom musikal yang baru bagi pagelaran wayang mereka. Namun keunggulan Ki Nartosabdho sebagai maestro gending gaya Semarangan, hingga kini belum tergantikan.

Heru Emka, peminat kajian budaya, tinghgal di Semarang.

Film Robotik


Transformasi, Mitos dan Mimpi Terkini

Oleh : Heru Emka

heruemka@yahoo.com


Hollywood baru saja merayakan sukses komersial film Transformer 2 : Revenge of The Fallen, yang memang sedang dinantikan oleh para pecinta film laga bergenre scifi.

Dalam film berdurasi 149 menit, garapan Michael Bay ini, memang tergambarkan adegan pertempuran dahsyat antara para mahluk alien yang berbentuk robot, dari kubu Autobot dan Deception, dengan segala bentuk kecanggihan mereka untuk mentransormasikan diri, dari penyamaran dalam bentuk aneka mobil, dalam wujud aslinya sebagai robot gigantik dengan daya penghancur tinggi.

Salah satu pimpinan robot antagonis, The Fallen, bahkan berencana untuk menghisap energi matahari untuk berkuasa dan memusnahkan bumi. Untunglah pimpinan robot protagonis, Optimus Prime beserta kelompoknya berpihak pada Pentagon untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Kita lepaskan sejenak jalan cerita yang memang digagas untuk melariskan mobil mainan produksi Hasbro, juga tanpa berpikir, kenapa semua alien yang saling bermusuhan ini, sama sepakat untuk menyamar dalam berbagai bentuk kendaraan yang ada di AS ? Yang jelas terbaca dari tren film seperti ini adalah betapa budaya pop Amerika berhasil mendesakkan konsep transformasi ( dari pemuda lugu bernama Clark Kent menjadi mahluk super kuat bernama Superman, dan seterusnya) sebagai bagian dari harapan dan mimpi panjang untuk menjadi pemenang.

Mitos tentang kesaktian para dewa di jaman dulu, oleh industri budaya pop kini dengan sukses diterjemahkan sebagai semua keutamaan dan keunggulan manusia super ( hasrat untuk mengatasi keterbatasan fisik manusia) berikut perluasan fantasi akan robot (perlambang harapan akan kemampuan mempersekutukan teknologi) dalam sejarah panjang Hollywood. Di dunia nyata, visi manusia terhadap pengembangan robot memang kian meningkat, dan di layar perak, metamorfosa fisikal robot dan kecerdasan buatannya melaju lebih kencang, dari bentuk Manusia Kaleng (Tin Man) dalam Wizard of Oz hingga cyborg penyelamat bumi dalam Terminator 2.

Sebelumnya para penulis fiksi ilmiah seperti H.G. Wells, Francis Flagg atau Karel Capek telah memulai ekpslotasi imajinernya tentang ‘mesin yang hidup’, yang dihadirkan secara visual oleh para sutradara film, dengan penafsiran dan dramatisasi sebegitu rupa hingga lebih dinikmati daripada sekedar gambaran fantasi semata.

Keresahan psikologis masyarakat industri

Kecemasan ini (terhadap salah fungsi teknologi ) lantas menjadi tema dalam berbagai film tentang robot, dianggap sebagai keresahan psikologis tersendiri bagi masyarakat industri. Otomatisasi yang menghalau peran manusia memuncak pada dramatisasi perebutan kekuasaan oleh para robot terhadap manusia. Dalam wacana budaya pop seperti komik atau novel sci-fi, robot banyak digambarkan dalam berbagai bentuk dan penampilan yang beragam, mulai dari pelayan yang patuh dan efisien hingga sebagai mesin pintar yang ‘jahat’ dan merancang ‘penghianatan’ sistematis terhadap penciptanya.

Dalam film Forbidden Planet (1956), si robot bernama Robbie adalah sahabat yang setia. Maria, robot ‘perempuan’ dalam Metropolis, bahkan tampil sebagai robot seksi yang pertama kali. Serial Star Wars-nya George Lucas memberikan gambaran robot gemuk R2D2 (baca : artuditu) yang mengingatkan kita akan peranan paea punakawan dalam kisah wayang.

Transformasi robot dari sebuah mesin semata menjadi mahluk-setengah-manusia baru muncul dalam film Blade Runner karya Ridley Scott. Dalam film ini, digambarkan bahwa manusia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan cyborg (manusia setengah robot). Para cyborg di film ini tak saja bisa melakukan kejahatan, namun juga bisa menjalin hubungan cinta den gan manusia.

Tema ini lalu digambarkan ikut membelah kepribadian manusia, kemudian memicu dilema moral. Problematika antara hubungan robot dan manusia pun mengalami babak baru dalam film Hollywood. Tak lagi sebatas budak dan tuannya, atau seperangkat mesin dan teknisi penciptanya, namun juga berada dalam suatu kondisi krisis yang mengancam keutuhan identitas manusia, baik secara moral atau psikologis.

Gene Rodenberry, penulis cerita fiksi ilmiah Star Trek, mengatakan, “ Dalam wacana fiksi-ilmiah, robot tak lagi diberi identitas sebagai sebuah benda serba guna, namun kemudian dijelmakan juga sebagai perluasan sifat manusia itu sendiri (extension of man) yang sebenarnya amat didambakan, namun tak bisa terwujud dalam kenyataan. Robot bisa melakukan berbagai hal yang tak bisa dilakukan oleh manusia, karena keterbatasan fisik dan kemampuan manusia. Gagasan awal tentang cyborg dan para humanoid (mahluk buatan yang ben tuknya seperti manusia ) lainnya adalah awal dari penggambaran mimpi kita sendiri, untuk menjadi mahluk super yang melampaui keterbatasan fisiknya.”

Apa yang diungkapkan oleh Roddenberry dalam Science Fiction and Borders menunjukkan eksistensi kekinian yang tak saja terjadi di ranah fiksi, namun dalam realitas teknologi. Moralitas kloning dan pencangkokan indera buatan pada mnusia kini mulai menjadi ‘mainan’ yang digemari para ilmuwan. “ Semua diilhami pesona khayali film fiksi ilmiah yang selama ini telah melenakan manusia di seluruh dunia, “ ujarnya lagi.

Dilema emosional yang terjadi saat manusia berinteraksi dengan para robot, tadinya memang hanya sebatas bumbu cerita semata, agar film robot bisa nyantol di hati penontonnya. Upaya lebih jauh lagi untuk mempertajam konflik kepribadian manusia yang tercekam situasi robotik justru dilakukan oleh Hollywood dengan memadukan bentuk fisik robot dengan emosi humanis, seperti kita lihat dalam film Robocop. Dalam film garapan sutradara Irvin Kershner ini, aktor Peter Weller berperan sebagai seorang polisi yang sengaja ‘dicangkokkan’ dalam tubuh robot. Yang muncul adalah tahapan hidup tragis, tentang bagaimana perasaan seseorang yang amat sadar dirinya terpenjara dalam sebuah mesin, sementara memorinya sebagai manusia masih tersisa dan berjuang keras untuk melawan program komputer yang berusaha mendesak kesadarannya sebagai manusia ke tingkat yang paling rendah.

Karena film robot telah menjadi genre tersendiri yang memiliki penonton fanatik dari segala usia, Hollywood terus memperbaharui tema-tema yang bisa diangkat untuk mengemas film robot menjadi tontonan yang laris manis di pasaran. Dalam film robot produksi Pixar; Wall-E, para robot digambarkan bisa mengembangkan kecerdasan buatannya sendiri hingga mencapai tahap empati. Bahkan bisa jatuh cinta segala. .

Sebuah ‘percintaan mekanik’ seperri ini pasti cukup unik, karena apakah yang mendasari perasaan cinta robot ? Bagaimanakah mereka mengidentifikasi ‘lawan jenisnya’ ? Apakah berdasarkan pesona seksual seperti manusia ? Atau apakah ada logika cinta yang sama sekali berbeda ? Inilah babak baru ‘dunia robot’ di layar Hollywood.


Kamis, 27 Maret 2008

Cinta yang Menaklukkan Segalanya

Cinta yang Menaklukkan Segalanya

Jodhaa-Akbar adalah film India ke sekian yang berhasilmenaklukkan pasar film dunia. Di kwartal pertama tahun 2008 ini misalnya, Jodhaa-Akbar tak saja diputar di jaringan gedung bioskopAS, namun juga di Eropa dan Kanada. Sukses komersial film ini tak saja karena menampilkan dua bintang muda yang punya kualitas akting memesona, namun juga seting cerita yang memberi pemahaman baru pada nuansa sejarah local India, pada masyarakat film dunia.

Jodhaa Akbar berkisah tentang cinta yang nyaris tak terungkap, antara penguasa Mughal, Kaisar Jalaluddin Mohammad Akbar (Hrithik Roshan), dengan Puteri Jodhaa (Aishwarya Rai), dara Rajput yang cantik, cerdas dan berapi-api. Film yang berlatarkan peristiwa di abad ke 16 di India ini bertumpu pada perkawinan politis antara dua kerajaan dengan dua budaya yang berbeda, untuk membentuk aliansi baru. Penguasa Rajput, Raja Bharmal (Kulbhushan Kharbanda) yang Hindu, sepakat memberikan puterinya untuk dipersunting oleh Kaisar Akbar yang Muslim. Sang kaisar yang masih muda ini tadinya hanya terpikat oleh kecantikan puteri Jodhaa semata. Dia sama sekali tak menyadari, bahwa hubungan ini akan membawanya pada pengalaman hidup yang baru, yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya

Pada dasarnya Jalaluddin muda adalah lelaki pemberani. Ketangguhannya di medan perang berbuah kemenangan demi kemenangan. Siasat perangnya membuat satu persatu lawan yang tangguh bertekluk lutut di hadapannya, sehingga dia mendapat julukan Akbar, yang berarti paling hebat. Namun kehandalan di medan perang tak berguna sedikit pun saat dia berusaha memenangkan cinta si cantik Jodhaa, yang ternyata berani menentang semua pendapatnya.

Sebagai orang yang sejak kanak-kanak mendambakan posisi sebagai penguasa tertinggi, Jalaluddin Mohammad Akbar menampilkan citra sepenuhnya sebagai penguasa yang memandang keberhasilan dengan seberapa jauh dia bisa memperluas wilayah kekuasaannya. Dari kawasan Asia Barat, dia terus melebarkan sayap ke wilayah timur, menaklukkan kerajaan kecil yang ada di sana satu persatu. Setelah Akbar berhasil menguasai celah Hindu Kush yang strategis, barulah kaisar muda ini menyadari bila wilayah kekuasaanya telah membentang begitu luas, dari Teluk Bangala hingga Afghanistan, dari pegunungan Himalaya hingga Sungai Godawari.

Walau begitu, kebesaran Akbar masih mendapat tantangan. Di depannya masih ada Rajput, benteng Hindu terkuat yang masih tersisa. Raja Bharma, walau menyadari bila kerajaannya tak bisa menandingi mesin perang Mughal, tak mau menyerah begitu saja, bahkan bertekat melawan sekuat tenaga. Akbar sendiri sebenarnya sudah ‘capek’, dan ingin menikmati masa jeda dengan kehidupan duniawi. Apalagi kerajaan yang telah tunduk mengisi haremnya dengan puteri-puteri India yang jelita.

‘Singa betina’ yang dipuja

Dari teks sejarah yang ada, yang berhasil ditemukan oleh Ashutosh Gowariker ( sutradara dan produser film ini ) Akbar tak pernah bertemu dengan Jodha sebelumnya, selain penuturan para penasehatnya bahwa dengan ‘memiliki’ Puteri Jodha, dia tak saja mendapat interi yang cantik dan pintar, namun juga bisa memiliki sebuah kerajaan tanpa harus mengeluarkan tenaga, karena sang puteri adalah belahan jiwa ayahnya. Logika yang diajukan para penasehat Akbar adalah puteri Jodhaa tak ubahnya sebuah cek kosong yang memberi peluang keuntungan luar biasa, baik secara politis atau militer.

“Baginda akan mendapat citra bijaksana seperti nabi Sulaiman, karena melindungi sebuah kerajaan Hindu.Di samping itu, bila kita tak perlu mengerahkan prajurit, amat menghemat biaya pengeluaran perang kita. Sebaliknya hubungan dagang dengan kerajaan Hindu itu menguntungkan kita, karena tak usah pergi jauh untuk mendapatkan barang berharga dari negeri Cina,” begitu usul para penasehat kepada Akbar.

Dalam kenyataan sejarah yang ada, isteri Sultan Akbar ini tak pernah dikenal dengan nama Jodhabai. Penyebutan dengan nama ini baru muncul akibat salah kaprah yang terjadi di abad19. Nama puteri yang cerdas dan pemberani ini sebenarnya adalah Hira-Kunwari, nama yang dipakai saat dia masih gadis.Setelah menikah dengan Sultan yang Muslim, dan permaisuri, namanya berubah menjadi Mariam-uz-Zamani.

Bagi penguasa yang masih muda ini, tak ada salahnya bila dia menempuh jalan yang menguntungkan. Apalagi dia mendambakan pasangan hidup yang tak asal tunduk. Dia mendambakan perempuan yang sepadan bagi penguasa dunia. Seperti Ruksahan (Roxxane), ‘singa betina’yang membuat penguasa mashur Iskandar Zulkarnain yang Agung (Alexander the Great ) bertekuk lutut mencintainya.

Dan lagi, semua tekanan, baik intimidasi militer, berbagai upaya diplomasi hingga teror psikologis yang keji, semua tak berguna bagi benteng Rajput yang bertekat untuk melawan sampai semuanya tumpas. Jodha mau saja berpindah posisi, menjadi pengantin kasisar muda paling berkuasa. Namun dia bukanlah merpati tanpa daya di kamar pengantinnya. Yang ajaib, puteri Jodha – dengan segenar paduan antara kecantikan, kecerdasan dan keberaniannya - menumbuhkan kesadaran Akbar, bahwa meriam dan pedang bukanlah kehebatan sejati para pria.

Maka, sang kaisar, yang kehadirannya di sebuah negeri mampu menimbulkan kepanikan rakyat yang gentar mendengar reputasi militernya, akhirnya bersimpuh di depan pesona sang cinta. Secara seksual dia ditaklukkan Yodha. Dalam kearifan ilmu tata pemerintahan, kekuasaan yang tadinya berlandaskan logika pedang, telah dibelokkan Yodah menjadi kearifan kebijakan pemerintahan ala Sulaiman yang ramah perempuan.
Secara bijak, Yodha tidak berdiri di depan tampuk kekuasaan. “ Telunjuk baginda lah yang memerintah dunia,” katanya secara cerdik memberi persuasi pada sang suami. Namun Yodha terus menunjukkan kekuatan perempuan sebagai insane ciptaan Tuhan, yang sama kuatnya dengan lelaki mana pun. Dia bagaikan sang puteri, yang terus memukai sang Raja dengan kalimat luar biasa, dengan dongeng selama seribu satu malam, yang bisa merubah hasrat pembunuhan menjadi api cinta, yang menyala perlahan dari sebuah bara. Pada akhirnya, Baginda Akbar lah yang mengmis cinta pada Jodha.
Dan happy ending yang terjadi di antara mereka , bukan lagi fiksi. Sejarah sering mencatat penghargaan yang begitu besar dari Sang Penguasa kepada belahan jiwanya. Taj Mahalm yang sebenarnya makam maha indah yang dibangun oleh seorang Raja untuk mengenang permaisurinya,- adalah salah satu contoh yang nyata.
Heru Emka


Lost in Beijing

Lost in Beijing adalah film yang memikat, menunjukkan bila negeri komunis seperti China, justru melahirkan banyak sutradara film yang berkualitas prima. Sutradara Li Yu,yang menggarap film ini sebagai pengungkapan narasi perjuangan hidup di kawasan urban China kontemporer, berhasil mendulang pujian, saat film ini ditayangkan pada Berlin International Film Festival (16 Februari 2007 ) 2007.

Li Yu sendiri dikenal sebagai sutradara muda yang berani menggarap tema-tema yang dianggap rawan di kalangan sineas China. Film garapan Yu sebelumnya; Fish and Elephant (2002), mengungkap problematika lesbianisme. Karya lainnya; Dam Street (2005), dipuji sebagai film drama yang memikat. .

Lost in Beijing yang uskes di manca negara, ternyata terjegal di daratan China. Seperti film lain yang coba memotret problematika tubuh perempuan, Lost in Beijing mendapat reaksi keras. Film yang bicara blak-blakan soal pelacuran, pemerkosaan dan pemerasan ini bahkan kemudian ‘tak lolos sensor’, istilah lain bagi pencekalan.

Film yang dipuji di Festival Film Tribeca dan laris manis saat diputar di jaringan bioskop New York ini, akhirnya hanya bisa disaksikan secara on line, seutuhnya, tanpa potongan sensor sama sekali. Ini memang perlawanan cerdas terhadapgunting sensor yang beringas.

Fil ini menuturkan kehidupan Liu Pingguo (Fan Bingbing) dan suaminya, An Kun (Tong Dawei) adalah sepasang migran muda yang datang dari kawasan utara China yang berusaha mencari kehidupan yang lebih baik di Beijing. Tentu saja Beijing bukan;ah sorga bagi mereka berdua, karena selain hanya bisa menyewa sepetak ruangan sempit, suami isteri ini masih harus berjuang agar hiduplabih layak

An Kun bekerja sebagai buruh pembersih jendela, sementara isterinya bekerja di panti pijat Golden Basin. Panti pijat ini dikelola oleh seorang pria tak tahu malu bernama Lin Dong (Tony Leung Ka Fai). Sedangkan isterinya,Wang Mei (Elaine Jin) membuka praktek pengobatan tradisional China. Dua jenis bekerjaan yang berbeda sifat ini, kemudian menimbulkan pertentangan antara kedua suami-isteri ini.

Saat sahabat Pingguo yang bernama Xiao Mei (Zeng Meihuizi), menyerang seorang tamu yang kurang ajar, dia dipecat oleh Lin Dong. Pingguo yang berusaha menghibur sahabatnya, sempat terlena minuman keras, dan mabuk di sebuah kedai tuak. Dalam perjalanan pulang menuju panti pijat, Pingguo tersesat di sebuah ruang kosong.Lin Dong yang memang tergoda dengan tubuh molek Pingguo, tak menyiakan ‘peluang emas’ dan segera memerkosa perempuan udik itu. Tragisnya, An Kun yang bekerja sebagai pembersih jendela,melihat adegan ini di kejauhan.

Suami Pingguo ini tak bisa menahan kemurkaannya, dia menyatroni Lin Dong, memakinya serta mengotori mobil Mercedes Benz Lin Dong. Takcuma itu, dia juga menuntut agar Ling Dong memberi uang ‘ganti rugi’ sebesar 20 ribu renminbi (mata uang China). Ketika Lin Dong tak memberikan uang, An Kun mencoba menggodai Wang Mei. Isteri Lin Dong yang memang sudah lama memendam kesal pada suaminya, justru menerima godaan Ah Kun.Bahkan menyeretnya pada sebuah petualangan seksual.


Deru campur debu

Hidup,cinta dan air mata, kadang tak tampildalam urutan yang sempurna. Takdir kadang menempatkan kita di jalan kehidupan yang penuh deru campur debu. Menyesakkan,namun tak terelakkan. Puncak dari silang sengkarut ini adalah kehamilan Liu Pingguo, dengan kedua lelaki; An Kun dan Lin Dong yang saling merasa menjadi ayah si calon bayi. Lin Dong sendiri berniat menjadikan kehamilan Pingguo sebagai peluang untuk menceraikan isterinya. Kedua lelaki dari pusaran cinta segi empat ini kemudian membuat kesepakatan yang dianggap memadai : Lin Dong akan memberi Ah Kun uang yang dimintanya, sebagai penebus perbuatan yang dilakukan Lin Dong pada isterinya. Kedua, bila golongan darah si bayi sama dengan Lin Dong, dia akan dipelihara Lin Dong sebagai anaknya, dan AH Kun menerima uang seratus ribu renminbi lagi. Sebaliknya bila golongan darah si bayi sama dengan Ah Kun, Lin Dong bebas dari tanggung jawab.

Namun di luar semuakesepakatan ini, perselingkuhan antara Lin Dong dengan Pingguo kian membara, seakan membakar ranjang yang menjadi landasan cinta haram mereka. Lin bahkan tak pedulipada gugatan perceraian yang diajukan Wang Mei, yang bakalmenyita separoh hartanya. Lin bahkan bersikap seakan dia memang ayah dari janin yang dikandung Pingguo. Masalahnya semakin berbelit, karena saat si bayi dilahirkan,

An Kun justru merasa bila si bayi adalah anak kandungnya.

Namun kemiskinan membutakan mata hati AH Kun, dia sepakat untuk menyerahkan anaknya pada Lin, demi sejumlah uang yang jumlahnya menyilaukan mata hatinya. Namun saat melihat betapa bahagianya Lin Dong memondong bayinya, api cemburu mulai membakar hati Ah Kun, dan membisikkan hasrat keji untuk menculik sang bayi.

Bagaimana dengan Pingguo,yang jiwa raga serta anaknya yang menjadi korban konflik pribadi dua lelaki ? Perempuan cantik ini pun disiksa rasa bersalah, karena malah menghanyutkan diri dalam arus perselingkuhan ini. Dia ikut tinggal di rumah Lin Dong, namun lebih sebagai peeawat bayinya. Setelah mengambil’uang tebusan’ yang diberikan Ah Kun padanya, dia menggendong bayinya, lalu pergi meninggalkan rumah. Film ini berakhir dengan adegan yang tak saja men gesankan; dua lelaki yang menjadi seteru dalam cinta, berada dalam sewbuah mobil yang sama: Mereka mencari Pingguo, perempuan yang dianggapbelahan jiwa oleh keduanya. Takdir untuk mencintai perempuan yang sama begitu mengenaskan dengan akhir jalan hidup keduanya : tewas dalam kecelakaan di jalanan Beijing yang begitu sibuk. Adegan ini menyisakan sebuah

pertanyaan yang merangsang : Di manakah sebenarnya letak kebahagiaan ? Kenapabegitu banyak orang berlarian tanpa harapan, walau dia tahu jalan itu menuju satu tempat :jurang kegagalan ? .( Heru Emka )

Senin, 14 Januari 2008

Love in the Time of Cholera

Sebuah Cinta yang Keras Kepala

Cukup banyak film beken yang diangkat dari novel ternama. Salah satunya adalah film Dr. Zhivago yang diangkat dari novel besar karya Boris Pasternak. Film ini, secara kualitas berhasil (memenangkan Oscar) sementara secara komersial juga sukses di pasaran. Ketika sutradara berhasil menyelesaikan film Love in the Time of Cholera (dirilis serentak 16 November lalu) yang diangkat dari novel karya Gabriel Garcia Marquez,- saya membayangkan sebuah film yang sarat dengan romantika agung yang kelam. Love in the Time of Cholera adalah lukisan muram sebuah kekecewaan, madah bagi jiwa yang bertahan tanpa gairah, melodrama yang merambat dari satu ke lain masa, tanpa ikatan masa silam atau sekarang.

Namun, inilah hikayat ternama yang jatuh ke tangan sutradara yang bahkan belum mantap karirnya. Mike Newell memang sempat mendapat pujian saat menyutradarai film Dance With a Strager, Enchanted April atau Four Weddings and a Funeral. Namun dia juga menghasilkan beberapa film jelek. Misalnya Into the West atau Mona Lisa Smile.
Di atas kertas, kisah ini menyajikan ramuan narasi yang jarang muncul dalam sebuah film. Ada kebangkitan gairah tak terpuaskan yang menghantui hari demi hari, ada dorong oleh emosi yang terjalin rumit dengan prinsip dan harga diri, ada perjalanan nasib yang terombang-ambing pergeseran kekuatan politik dan sejarah. Ronald Harwood mendapat kehormatan untuk menuliskan skenario adaptasi dan ‘menjinakkan’ kekuatan kalimat rangkaian Gabriel Garcia Marquez. Harwood sebelumnya memenangkan Oscar untuk Skenario Terbaik dalam film The Piano yang disutradarai oleh Roman Polanski.

Kisahnya terjadi di Argentina di tahun 1879, ketika wabah kolera mengamuk di sana. Meluncurlah narasi yang mengalit bagaikan impian surealis tentang kerinduan dua manula yang saling mendamba kesempatan kedua, bagi cinta pertama mereka. Seorang lelaki bernama Florentino Ariza (Javier Bardem) harus menunggu lebih dari setengah abad untuk menyatakan cintanya pada Fermina Daza (Giovanna Mezzogiorno). Semasih muda, Florentino yang miskin tinggal bersama ibunya (Fernanda Montengro). Dia jatuh hati pada pandangan pertama kepada si jelita Fermina, kemudian mulai menulis surat cinta, atau menantikan Fermina di luar rumahnya, sambil berharap bisa memandang wajahnya sekilas. Bait-bait puisi yang dibacakan Florentino dengan getar kata penuh perasaan akhirnya meluluhkan hati Fermina, hingga gadis ini bersedia menikah dengannya.

Namun ayah sang dara (John Leguziamo) terlanjur mengirim putrinya untuk berdiam dengan keluarganya yang lebih kaya, di luar kota. Walau merana, Florentino terus memelihara cintanya melalui surat-surat cinta yang ditulis tanpa henti, dan tak terkirimkan,. Namun saat Fermina kembali, dia sudah menjadi perempuan yang berbeda. Waktu telah membuatnya dewasa, sehingga Fermina berpikir bila cinta monyet mereka dulu amat mustahil terjadi. Karena itu dia pun menikah dengan Juvenal Urbino (Benjamin Bratt), seorang dokter muda yang ganteng, yang dianggap lebih sepadan oleh Fermina. .

Florentino yang tak ingin mati merana dan sia-sia, berjuang sekuat tenaga untuk menaikkan harga dirinya. Dia segera sukses berniaga. Malam demi malam, dia mengisi tempat tidurnya dengan wanita cantik. Namun ruang di hatinya tetap hampa, walau seorang jutawan bernama Senor Daza juga menawarkan juga puterinya yang jelita.

Tahun demi tahun berkelebat cepat, dan semuanya pun beranjak tua. Menjelang usia senja, pernikahan Fermina ambruk akibat perselingkuhan suaminya dengan pasien wanitanya. Tak lama kemudian Juvenal tewas terserang kolera, meninggalkan Fermina, sebagai janda. Namun di sana ada Florentino, yang tetap merindukan cinta Fermina dalam baying-bayang kesedihannya. Setelah sekian lama, terjadilah pertemuan dua cinta terhalang. Fermina masih bisa meraba getaran cinta masa remaja dan Florentino masih terpesona oleh cemerlang pandang Fermina yang selama ini didambakannya. Namun bisakah cinta di usia senja ini terjalin ketika ajal saling bermunculan di balik kabut kelam wabah kolera ?

Setelah menyimak film ini dengan seksama, setidaknya muncul sebuah pertanyaan : apakah narasi kata-kata Gabriel Garcia Marquez, yang begitu sugestif dan imajinatif, terlalu sukar untuk diterjemahkan dalam bahasa gambar ? Mike Newell berhasil memberi roh pada satu dua adegan cinta yang dalam plot novelnya cukup menggetarkan. Namun adegan yang seharusnya menggambarkan amuk rindu dendam dari cinta yang membakar jiwa, sepertinya luput dari rekaman kamera. Tak ada bedanya gejolak ‘arus dalam’ haru-biru perasaan di antara gambaran karakter berusia muda dan saat mereka berusia senja. Bukankah bentuk fisik yang berbeda menimbulkan gestur dan bahasa tubuh yang tidak juga sama ?

Bisa ditangkap ketidaksabaran sutradara untuk menghanyutkan diri melarasi narasi hikayat yang penuh liukan panjang, hingga nampaklah jelas keinginan sutradara untuk membuat film roman ala Hollywood. Aktor watak sekelas Javier Bardem (yang menunjukkan kekuatan akting yang prima dalam Ghost of Ghoya) sepertinya dibiarkan berakting apa adanya. Aktris Giovanna ezzogiorno (pemeran Fermina), memang jelita. Namun logat Italianya yang begitu kental menimbulkan kesan mis-casting, karena bukankah kisahnya berlokasi di Argentina ?

Tentu ada juga pemain yang bisa larut menghayati peran yang dibawakan. Akting dua aktris pendukung sepertiFernanda Montenegro (meraih nominasi Oscar dalam film Walter Salles yang berjudul Central Station ) dan si cantik Catalina Sandino Moreno( meraih nominasi Oscar dalam Maria Full of Grace) yang berperan sebagai sahabat karib Farmina, bisa memberi makna pada cerita.

Dalam daftar film yang diangkat dari kisah novel ternama, apakah Love in the Time of Cholera ini hanya memperpanjang deretan dari film yang gagal menghadirkan pesona naskah aslinya ? Untunglah masih ada juru kamera dan pemadu gambar, yang berusaha keras untuk menghadirkan idiom visual yang cukup puitis, sehingga nuansa realisme-magis, yang menjadi kekuatan narasi novelis Gabriel Garcia Marquez, agak bisa diresapi dalam film yang berdurasi 139 menit ini .

(Heru Emka – pengamat film )

Sihir Gothic Metal

Para personik Corvus Corax : Teufel, Castus Rabensang, Meister Selbfried, Ardor vom Venushügel, Wim; sitting: Harmann der Drescher, Hatz, Patrick der Kalauer . Penampilan ala Gothic yang cenderung kelam

Setelah mendengar seluruh album Corvus Corax ( lihat foto mereka di atas) yang berjudul Cantus Buranus (Roadrunner Recirds, 2005), saya melakukan uji coba dengar. Saya ajak seorang teman; Amelia Priscandini - dia pecinta berat musik klasik – untuk menyimak beberapa lagu seperti Dulcissima, Lingus Mendax, dan Ergo Bihamus. “ Ini kan lagu-lagu opera, tapi aransemennya kok seperti lagu metal ya ?,” tanya Amelia spontan. Sebaliknya pada uji dengar pada person yang berbeda; Anto ‘Priest’, - anak arsitektur yang hingga kini masih setia sebagai ‘headbanger metal’ – muncul komentar seperti ini, “ Lagunya metal nih. Tapi gayanya kok jadul.Antik banget. Lagunya siapa sih ?.”

Keduanya nggak salah. Yang dibawakan oleh Corvus Corax tadi memang lagu opera Carmina Burana, gubahan komponis Carl Off, yang menulisnya di awal Abad Pertengahan (tahun 1300-an). Dan Corvus Corax adalah grup metal dari Jerman, yang sejak awal memilih tamasya musik ke masa silam, menelusuri perbendaharaan lagu Eropa pada era Gothic sejati, di Abad Pertengahan. Gaya musik mereka cukup unik, antara lain memainkan alat musik kuno seperti bag pipe dan sebagainya. Eksistensi Corvus Corax sendiri termasuk ‘metal banget’. Oh ya, Corvus Corax adalah nama Latin untuk burung gagak. Penampilan mereka diatas panggung cukup teaterikal. Kadang nampak seram dengan hubah panjang misteriis atau berkostum seperti karnaval, bertopeng dengan wajah ganjil dan sebagainya.

Grup ini dibentuk pada tahun 1989 oleh Castus Rabensang dan Venustus ini sekarang eksis dengan enam personil lainnya; Ardor vom Venushügel, Patrick der Kalauer, Harmann der Drescher, Hatz, Meister Selbfried, Teufel (yang ini bahasa Jerman untuk kata Devil). Cantus Buranus ini adalah album mereka yang ke lima belas, sejak mereka merilis album perdana; Tempi Antiquii (1988). Dengan album yang sebagian besar judulnya menggunakan bahasa Latin, Corvus Corax cukup berjaya di kubu musik Gothic Metal. Penampilan mereka di atas panggung juga dinantikan. Tahun kemarin misalnya, mereka menggelar ‘konser rahasia’ di ajangh festival musik Gothic Metal AS; Pennsylvania Renaissance Faire, bersama grup keraslainnya seperti Judas Priest, Atrocity, Holy Moses dan lainnya.

Metal Simfonik

Gothic Metal memang genre musik yang tampil beda. Perhatikan saja nama-nama ini : Aeternitas, Aion, Atargatis, Labores Somnium, Myriads, Xandria Mungkin nama-nama ini terlalu indah dan puistis bagi grup metal, yang sebelumnya lekat dengan imaji brutal dan kasar. Gothic metal sebagai genre musik, berkembang di Eropa pada awal tahun 1990-an, sebagai subgenre dari aliran musik doom metal, yang banyak menampilkan tema-tema kelam, seperti maut dan sebagainya.

Saat ini mereka yang tergolong sebagai grup Gothic-Doom metal antara lain adalah Artrosis, Cryptal Darkness, Lacrimosa, Mandragora Scream, Type O Negative, Visceral Evisceration . Sedangkan mereka yang ada di jalur Gothiic Black di antaranya Anorexia Nervosa, Bal-Sagoth, Dimmu Borgir, Limbonic Art, Lux Occulta. Yang punya permainan lebih rapi ada di jalur Symphonic metal, di antaranya adalah :After Forever, Autumn, Epica, Therion. Sedangkan grup lainnya Angra , Excalion, Lunatica dan Stratovarius, oleh para kritisi musik metal ditempatkan di jalur Symphonic Power Metal.

Defenisi musik Gothic metal sendiri sampai kini masih mengundang perdebatan, karena gaya komposisi dan estetika musik yang dibawakan begitu beragam. Yang jelas dalam gothic metal, virtuositas pribadi personil ditinggalkan, dan lebih mengutamakan harmoni sebagai konsep utama. Penampilan dua vokalis dengan tekstur suara yang berbeda kontras (banyak di antara mereka menggunakan dua vokalis pria dan wanita) dan sering tampil dengan gaya nyanyi pendeta Gregorian yang antik namun terdengar keren.Sedang pemakaian gitar akustik dan kibor yang menjadi unsur bunyi utama.

Dari segi komposisi, gaya ini lebih mengacu pada konsep musik doom metal atau black metal, yang melodi dan ritemnya diwarnai bunyi synthesizer yang berat. Seperti vokal pria dan wanita yang tampil bersamaan dalam warna nada yang berbeda, gitar akustik juga menjalin melodi tersendiri dengan gitar listrik, dalam nada yang kadang terdengar rumit. Kibor yang tampil dominan dalam menghadirkan unsur suara string dan alat musik tiup, membuat mereka lebih sering menampilkan harmoni orkestrasi simfonik, hingga gaya musik ini juga disebut sebagai symphonic metal.

Dari sisi lirik, nampak gaya yang paling khas, yakni menampilkan tema fantasi yang bersumber pada berbagai kisah legenda fantasi Eropa pada Abad Pertengahan, dengan segala pengembangan dan tafsir yang baru. Tak heran bila nama dan kalimat dalam bahasa Latin sering muncul, juga kisah tentang para ksatria, putri jelita, penyihir, mahluk gaib dan peperangan dahsyat sering diangkat sebagai tema lirik yang memikat, dan berbeda jauh dengan lirik band death metal Amerika yang seringkali bertemakan sadisme yang berdatah dan horor seram.

Dongeng yang dilagukan

Lirik lagu dari band gothic metal bahkan sering tersusun dalam suatu tema terbingkai cerita yang panjang, sehingga album itu tak ubahnya sebuah kisah fantasi dongeng yang dilagukan. Setiap lagu punya hubungan cerita dengan lagu lainnya. Hal ini bisa disimak, antara lain pada album grup seperti Penumbra ( Seclusion) atau Silentium ( yang berjudul Sufferion - Hamartia of Prudence). Satu lagi yang membuat album mereka asyik dikoleksi; sampul album yang artistik, dengan berbagai judul yang puitis. Salah satu contohnya adalah sampul album Anathema yang berjudul dan A Natural Disaster (2004) Nama lain yang cukup berjaya adalah Theatre of Tragedy, band asal Stavanger, Norwegia ini cukup unik, karena dalam tiga album pertamanya menggunakan lirik lagu bahasa Inggris kuno.

Theatre of Tragedy juga mempelopori gaya duo vokal yang kontras; vokalis pria bernyanyi pada nada bas, yang membuatnya terdengar seperti menggeram,- sementara vokalis wanita band ini bernyanti gaya sopran yang melengking. Theatre of Tragedy yang dibentuk pada tahun 1993 ini, tadinya bernama Suffering Grief, yang kemudian berganti nama menjadi Le Reine Noir sebelum memantapkan diri dengan nama Theatre of Tragedy.di tahun 1995.
Kini personil band ini adalah : Raymond István Rohonyi dan Nell Sigland (Vocal), Frank Claussen (gitar), Vegard K. Thorsen (gitar), Lorentz Aspen (kibor) dan Hein Frode Hansen (drum). Biduanita Nell Sigland (The Crest) datang bergabung untuk Liv Kristine. Sejak merilis album pertama yang berjudul Theatre of Tragedy (1995), mereka sudah merilis lima album lagi. Yang terbaru berjudul Storm yang ditilis pada 24 Maret

Lama lain yang sekarang cukup beken adalah Anathema, grup asal Liverpool, yang bersama Paradise Lost dan My Dying Bride mengembangkan genre doom death metal. Personil Anathema adalah tiga bersaudara Vincent (vocals, rhythm guitar), Daniel (lead guitar) dan Jamie Cavanagh (bass), Les Smith (kibor) dan John Douglas (drum). Anathema yang terbentuk di tahun 1990 dengan nama Pagan Angel. Dalam tempo tiga tahunh, mereka melejit dan menggelar konser keliling Eropa, di susul penampilan di panggung Independent Rock Festival di Brazil (1994)

Saat merilis album The Silent Enigma, mereka membalik gaya musik dengan menampilkan unsur Gothik yang kental. Walau fans berat mereka menerima perubahan ini, Daniel Cavanagh justru memutuskan keluar untuk bergabung dengan band lain; Antimatter. Untung dia segera balik ke Anathema dan merilis A Natural Disaster(2003), yang menjadialbum terbaik mereka. Hingga kini tujuh album telah mereka hasilkan, antara lain : Serenades (1993), The Silent Enigma (1995), Eternit y (1996), Alternative 4 (1998), Judgement (1999), A Fine Day to Exit (2001) dan A Natural Disaster (2004)

( Heru Emka, pengamat musik, tinggal di Semarang)