Sabtu, 12 Januari 2008

Camera Lucida

dan Kebenaran Ganda Foto Berita


Banyak yang setuju setuju dengan Rolland Barthes, saat dia berkata bahwa gambar (foto berita ) sudah menjadi menu harian kita. Semiotika gambar selalu berhamburan dari berbagai media. Banyak dari semua ini yang merupakan pesan langsung (yang oleh Barthes diistilahkan sebagai ‘a message without a code’ , di mana kita tak memiliki ruang untuk mempersoalkan hubungan antara foto dan realitas.

Foto keluarga misalnya, jelas mengingatkan kita pada situasi sebenarnya yang pernah hidup dan terjadi di masa silam. Foto jurnalistik seperti pengibaran bendera Merah Putih yang pertama di Pegangsaan, 1945, atau foto-foto ilmiah yang menunjukkan realitas dengan segala detilnya, semua ini adalah jenis khas dari fotografi indeksial, yang dalam sudut pandang kajian budaya merupakan referensi dan korespondensi ikonik antara penanda fotografi dan obyeknya. Semua memberi kesaksian bagi kebenaran dalam sebuah foto.

Walau begitu, apakah semua orang yakin bila kebenaran dalam fotografi kini tak utuh lagi ? Apakah foto Gus Dur yang sedang ‘memangku’ seorang perempuan – yang pernah menjadi isu hangat media massa – adalah realitas yang sebenarnya ? Bagi Barthes, obyek yang direferensikan mungkin dijelmakan dalam gambar, sehiangga pemirsanya sampai pada kesan yang ilusif (direkayasa ) dan terperdaya (deceptive). Atau dalam Camera Lucida: Reflections on Photography. (London: Cape, 1980) Roland Barthes menyatakan “ The studium is the spectator's attraction, because of cultural background, interest, curiosity, to an image.” Dan “ unary" photographs (e.g., news photographs, war photographs, sociological photographs) as providing for the spectator of a lot of studium.

Kita pernah mengalami masa di mana sebuah foto dianggap mencerminkan kebenaran yang ada. Melihat foto karya Mendur Bersaudara yang menggambarkan seorang petani datang dan bersimpuh memeluk kaki Bung Karno misalnya, memang menggambarkan realitas yang sebenarnya : bahwa seorang petani bisa bertemu dengan seorang presiden yang benar-benar dekat dengan rakyat kecil. Terbuka, apa adanya.

Dengan perannya sebagai ‘duta kebenaran’, juru foto legendaris seperti Henri Cartier-Bresson memperlakukan kameranya tak ubahnya bagian dari eksistensinya. Dia dengan bangga menggambarkan kamera pertamanya, sebuah Leica (yang dibeli di Marseille di awal tahun ’30-an), sebagai ‘perluasan pandangan matanya’. Obyek yang dihasilkan Cartier melalui kameranya pun, membuat orang ikut menyaksikan jalannya sejarah, yang terjadi di tempat berbeda, di waktu berbeda : Pembebasan kota Paris dari Nazi, kekalahan kaum Nasionalis di Cina, pemakaman Gandhi, pembangunan Tembok Berlinm dan sebagainya.

Menggenggam kebenaran dan menyajikan kenyataan pun kemudian menjadi pedoman tunggal bagi foto-foto berita hingga setengah abad kemudian. Sampai sebuah foto dimanipulasikan, sehingga unsur realitas dengan mudah bisa direkayasa. ‘Foto’ yang menunjukkan lokasi pabrik senjata pemusnah masal di Irak, yang dijadikan pembenaran serangan AS, adalah rekayasa canggih teknologi digital imaging.

Nyatalah bahwa kecemasan Barthesa dalam Camera Lucida, bahwa foto berita juga rawan manipulasi, atau setidaknya dipermudah untuk menimbulkan berbagai bias penafsiran, terbukti.


Sekarang foto berita bahkan bisa menghadirkan sebuah representasi yang paradoksal. Misalnya foto para serdadu AS yang sedang meneropong Meulaboh. Bukan ini juga mengundang penafsiran kontras dari kehadiran mereka sebagai penolong dalam bencana tsunami Aceh ? Jangan-jangan mereka meneropong bagian terlemah dari pertahanan kita. Bukankah ketua BIN sendiri menyatakan bila kehadiran pasukan asing itu memiliki agenda tersembunyi ?

Manipulasi gambar fotografi ternyata berhasil mengecoh pemikiran banyak orang. Termasuk Umberto Eco, sang pemuka dalam pemikiran budaya pop kontemporer. Dalam Semiotics and the philosophy of language ( Bloomington: Indiana University Press, 1984, halaman 223), dia berpendapat bahwa foto tak pernah berdusta ("photographs can lie"). Dalam fotografi iklan misalnya, sebagai pengganti sebuah kebohongan, tersedia banyak metafora visual yang dibesar-besarkan, namun tak dianggap serius.

Nyatanya dalam foto berita – yang bahkan sengaja dibuat dengan niatan tertentu – selalu muncul trick effect. Bukankah foto para serdadu AS yang memondong anak korban tsunami di Aceh (foto sampul majalah Time di bulan Januari 2006),- menampilkan apa yang disebut Barthes sebagai systems of signification ? Ekspresi si prajurit AS yang ‘baik hati’ jelas merupakan signification (penciptaan tanda) yang amat kontras dengan keberingasan pasukan AS saat melantakkan kota Faluyah di Irak, misalnya. Inikah yang disebut sebagai kebenaran yang bermakna ganda, sebuah realitas paradoksal, yang oleh Barthes disebut sebagai ‘real unreality’.

Butuh penafsiran beragam

Mungkin yang selama ini luput dari pemikiran kita sebagai pemirsa awam foto berita adalah menafsirkan makna foto berita tidak secara tunggal. Marcia Eaton, dalam "Truth in pictures" (Journal of aesthetics and art criticism 39, 1980) berkata, “ Manipulasi foto berita yang diawali oleh CIA di tahun ’60-an, kini sudah menjadi wacana terselubung bagi kepentingan politis suatu pihak, baik itu negara, kelompok orang atau bahkan perusahaan besar yang berkuasa.” Foto jenasah Aldo Moro yang tewas ditembak kelompok Brigade Merah bahkan pernah menjadi bahan indoktrinasi kelompok kanan Italia, bagi kepentingan politik mereka.

Agaknya gagasan tentang perlunya multi tafsir bagi foto berita bisa menjadi sarana yang pas untuk mengapresiasi kondisi yang sebenarnya, dari apa yang ditampilkan oleh fotoberita itu sendiri. Foto yang merekam adegan dramatis dari penyerangan menara kembar Wolrd Trade Center yang sensasional tadi misalnya, menyimpan banyak tanda (stock of signs ) : Fakta yang mengacu pada begitu besar kebencian terhadap Amerika, atau strategi penyerangan teroris yang semakin canggih, atau fakta lainnya bahwa Amerika Serikat tak lebih cuma macan kertas , dengan pertahanan wilayah yang rapuh. Atau bahkan tak ada sebuah negara yang kebal serangan.

Walaupun foto ini diambil secara obyektif, murni lahir dari spontanitas seorang juru foto yang bersemangat mengabadikan peristiwa, seperti juru foto kondang lainnya (Robert Capa, Sebastião Salgado atau Henri Cartier-Bresson ), muncul banyak order bagi para fotografer Gedung Putih untuk menindak lanjuti foto dramatis ini dengan membidik ekspresi para korban, dan mempublikasikan kampanye global Amerika Serikat sebagai korban, yang kemudian menuntut keadilan, justru dengan menyerang Afganistan dan Irak. Ada begitu banyak foto yang sengaja di lansir ke berbagai media massa di AS, untuk mempersiapkan sebuah pembenaran bagi invasi mereka ke negara lain. Seperti dusta itu sendiri, foto yang dimanipulasikan hanya bisa tampil sebatas pesan-pesan visual yang digambarkan, namun tak berhubungan dengan kenyataan yang sebenarnya ( Heru Emka, peminat kajian budaya )


Kecantikan sebagai mantera abadi

Dalam sebuah tayangan infotainmen, seorang presenter menanyakan alasan apakah yang membuat aktris BT mendadak tampil dengan wajah baru ? “ Bukankah dia sebelumnya sudah berwajah cantik ?” . “ Sebenarnya alasannya cukup sederhana. Perempuan kan selalu ingin tampil lebih cantik. Jadi apa salahnya kalo kita selalu berusaha mempercantik diri ? Kan yang melihat juga lebih senang kan ?,” jawab si artis yang bersangkutan.

Kecantikan, bagi siapa saja, selama ini memang menjadi semacam mantera abadi, yang tak pernah lekang pengaruhnya sejak awal peradaban manusia. Media cyber seperti Salon.com, dalam tajuk special section,- menampilkan artikel menarik tentang mitos keindahan para dewi kecantikan dari masa ke masa. Mulai dari Ratu Helena (Helen of Troy), Cleopatra hingga para selebritis belia Hollywood seperti Liv Tyler.

Ratu Helena yang secara sepihak dituding menjadi biang keladi pecahnya Perang Troya, menduduki peringkat pertama sebagai ‘perempuan tercantik didunia’, dengan dengan sorot mata indah yang ‘mengandung bius’, seperti digambarkan oleh pujangga Homerus. Ratu Mesir; Cleopatra, ada di peringkat kedua dengan resep istimewanya mandi susu plus madu, yang masih diadopsi oleh para perempuan sekarang ini. Posisi perempuan berikutnya yang dianggap membawa tren kecantikan adalah aktris tahun ’60-an; Raquel Welch, yang bentuk tubuhnya dianggap seindah Venus. Yang terakhir adalah citra dewi muda Hollywood : aktris Liv Tyler, yang dipandang mewakili kecantikan alami, jauh dari rekayasa fisik secara medis.

Menurut saya, yang menarik bukan apa atau siapa yang menghiasi galeri dewi kecantikan versi Salon, namun penjelasan bahwa definisi kecantikan telah bergeser maknanya, dari masa ke masa. Kecantikan yang semula dikagumi sebagai seni keindahan ( art of beauty , yang barangkali mewakili tahap pemikiran mitik ) bergeser sebagai ‘teknologi keindahan’ (science of beauty) yang mewujud lewat rekayasa kecantikan artifisial seperti bedah plastik, implan sel hidup atau terapi ozon dan sebagainya.Bagi para pendamba kecantikan, ‘science of beauty’ menjelma mantera baru, dengan ‘kuil’ yang baru : salon kecantikan yang ekslusif nan mewah, dengan peralatan moderen yang menggabungkan kemampuan medis rumah sakit spesial dengan kenyamanan pelayanan hotel berbintang lima.

Tubuh yang termodifikasi

Tubuh menjadi obyek baru bagi senirupa kecantikan, obyek utama sebuah modifikasi atas nama estetika. Dalam Body Modification (Mike Featherstone, Thousand Oaks, London 2000 ) disebutkan secara jitu bahwa ‘tubuh manusia akhirnya menjelma menjadi berhala baru dalam sudut pandang studi kebudayaan’.( The human body is the new fetish of cultural studies.)

Dalam antologi ini - menurut saya paling komprehensif untuk menjelaskan ‘hasrat’ dan ‘politik tubuh’- tak saja para feminis, namun juga psikoanalis, fenomenolog dan antropolog,- ikut mengembangkan teori yang tajam dan beragam tentang tubuh manusia. Menjadi cantik memang lebih menyenangkan (preferable). Menurut pemahaman aktris BT tadi, selama ini mereka yang cantik tak saja lebih mudah mendapatkan pasangan, namun juga pekerjaan, dan berbagai peluang dan kemudahan lainnya. Di sisi lain, konsep kecantikan sendiri telah direduksi oleh kepentingan kapitalisme. Versi kecantikan yang begitu beragam lalu diperas dalam sebuah defenisi yang seragam, versi kapitalisme perusahaan kosmetik atau lembaga yang merasa punya hak untuk menentukan wanita tercantik sedunia. Miss World, misalnya.

Masalahnya, haruskah ada kelompok tertentu yang punya legitimasi untuk menentukan kriteria kecantikan ? Dan bisakah kriterianya mewakili suatu obyektifitas ? Industri global yang menjadikan kecantikan dan keindahan tubuh sebagai isu panas, juga menunjukkan kecenderungan untuk bergerak secara homogen.

Belenggu, candu

Tokoh feminis postmodern seperti Julia Kristieva sendiri menganggap kecantikan sebagai rahmat sekaligus ‘kutukan’. “ Ada semacam belenggu kecanduan dalam konsep kecantikan, sehingga wanita tergoda untuk merantai dirinya dalam citra cantik, dan mengabaikan isu strategis lainya yang tak kalah penting dalam kehidupannya. Mereka menjadi boneka yang terantai dalam etalase kekaguman para pria,” ujarnya dalam Desire in Language ( Columbia University Press, 1982.

Saya memahami kegundahan feminis yang satu ini. Gairah para wanita untuk terus melakukan perombakan atas tubuhnya sendiri melalui berbagai upaya : bedah plastik, .body piercing, rekayasa prosthetik, proses neural implants, hingga metode pengobatan mutakhir nanoteknologi,- yang atas nama fashion dalam tahun-tahun terakhir ini, telah membuat mereka menjadikan tubuh sebagai tempat yang paling aktual untuk melakukan eksperimen.

“ Bila kecantikan menjadi mantera abadi, berikut mitos-mitos yang hampa dan tak relevan bagi aktualisasi diri, maka alangkah menderitanya tubuh wanita masa kini, “ begitu keluh Kathy Davis, dalam ' "My Body is My Art": Cosmetic Surgery as Feminist Utopia'. - The European Journal of Women's Studies. No 4: pp 23-37. (1997). Dan para korban mitos ini masih saja berjajar dalam jarak yang begitu panjang. Tak saja aktris BT yang mendadak saja muncul dengan bentuk hidung dan dagu yang berubah ( padahal wajah sebelumnya sudah cantik ) namun juga seorang ibu rumah tangga di sebuah kota kecamatan, seperti Mranggen, Demak. Pendapat tentang kecantikan kadang terasa begitu absurd, terutama bila kita berpikir bahwa kecerdasan, kearifan dan kelembutan perempuan juga merupakan kecantikan yang tiada tara …….

(Heru Emka – mitra perempuan )

.


Oscar yang tidak gemebyar


Selama ini perhatian dunia bisa dibilang hanya tertuju pada pemenang Oscar untuk kategori mayor, yang selama ini dikenal sebagai Oscar yang penuh gebyar, seperti Oscar untuk aktor dan aktris terbaik, sutradara terbaik, penulis skenario terbaik, juru kamera terbaik dan beberapa lagi. Sedangkan Oscar untuk kategori minor, seperti tata rias terbaik, disain kostum terbaik, atau editor terbaik,- sepertinya luput dari perhatian publik. Padahal Oscar untuk kategori minor seperti ini bukanlah sekedar pengakuan atas prestasi mereka sebagai insan film, namun bisa berarti sebagai pendorong besar bagi perubahan hidup mereka. Pekerjaan menjadi lebih mudah bagi pekerja film yang pernah meraih Oscar.

Bagi nama beken seperti Tom Cruise atau Stephen Spielberg, meraih piala Oscar, mungkin bukan hal yang luar biasa. Sebelum meraih Oscar sebagai Sutradara Terbaik, Spielberg sudah lama kondang sebagai sutradara jempolan. Begitu juga dengan Tom Cruise, yang sudah termashur sebagai aktor papan atas, walau hingga sekarang dia belum pernah mendapat Oscar. Oscar bagi Tom Cruise mungkin hanya menambah sebuah masukan bagi curiculum vitae-nya : sebagai peraih Oscar. Nama mereka sudah lama berada dalam daftar nama beken yang diincar para produser untuk mendapat proyek film berbiaya besar. Bagi mereka, penyebabnya sudah jelas, bukan karena Oscar,- namun karena mereka memiliki nama besar.

Namun bagi Pietro Scalia misalnya ( nama yang mungkin belum pernah Anda dengar ) Oscar adalah sebuah pengakuan penting. Scalia, yang meraih Oscar untuk Editing Terbaik dalam film JFK (1993) tidaklah sekondang sutradaranya; Oliver Stone, atau aktor Oliver Stone,- pemeran utama dalam film ini. Pietro Scalia hanya seorang pekerja film yang mempertaruhkan kepiawaiannya dalam mengedit gambar. Dia bahkan tak punya agen, yang ‘menawarkan’ dia ke berbagai pihak , agar mendapat pekerjaan.

Dan lagi, JFK adalah proyeknya yang pertama yang editingnya dikerjakan sendiri. Editing Scalia dalam JFK memang jempolan. Dengan bagus, bahkan nyaris sempurna, dia menggabungkan film dokumenter dengan adegan buatan Oliver Stone. Namun bagi Hollywood, Scalia masih seorang editor kelas teri. Sampai dia meraih sebuah Oscar, dan pintu Hollywood mendadak terbuka lebar untuknya.

Tak cuma itu, nama Scalia juga melejit di negeri asalnya, Italia. Dampak yang paling menyenangkan adalah saat dia menerima sebuah telpon dari seorang produser di sana, yang mengabarkan bahwa sutradara kondang Bernardo Bertolucci, meminta kesediaan Scalia untuk menjadi editing dalam film yang sedang digarap oleh Bertolucci.

“ Saya nyaris tak percaya dengan kata-kata yang saya dengar, ‘Ada waktu untuk Bertolucci ?’ Ini sebuah kesempatan emas,” tutur Scalia, yang segera berkemas ke Nepal menyusul Bertolucci yang sedang menggarap film Little Budha. Scalia merasa, bila tak meraih Oscar, tak mungkin Bertulucci meliriknya. Scalia kemudian meraih Oscar yang kedua lewat film Black Hawk Down. Dua juga meraih nominasi lewat film Good Will Hunting dan Gladiator.

Oscar tak hanya bagi mereka yang baru merintis karir seperti Scalia, namun juga bagi Vilmos Zsigmond yang telah 20 tahun berkarir, saat dia meraih Oscar 1977 lewat film Close Encounters of the Third Kind, yang membuat dia mendapat julukan ‘master of lights’ di samping tawaran proyek film mahal yang semakins erring datang kepadanya. “ Ini membuat simpanan saya bertambah, walau sebenarnya saya lebih suka bekerja untuk proyek film indie, karena di situ saya bebas mengembangkan kreatifitas,” ujarnya.

Namun di satu sisi, para produser independen takut bila para peraih Oscar ini kemudian menaikkan tarifnya. Hal ini sudah dirasakan oleh para pekerja film yang pernah meraih Oscar. Lynn Barber – yang meraih Osdar 1990 sebagai Penata Rias Terbaik dalam film Driving Miss Daisy – terpaksa harus mondar mandir ke berbagai perusahaan film, untuk menyatakan bahwa tarifnya tidak naik. Soalnya, setelah dia meraih Oscar, malah tak ada tawaran kerja yang datang. Setelah para produser tahu bila dia tak menaikkan tarifnya, baru tawaran kerja mengalir. Bagi Lynn Barber, Oscar yang diraihnya bukan jenis Oscar yang penuh gebyar, seperti Oscar bagi aktor atau sutradara terbaik. Nyatanya Oscar yang diraihnya tak meningkatkan penghasilannya. Apalagi ada 1500 penata rias yang terdaftar di tempat tinggalnya. Dengan kata lain, persaingannya amat ketat.

Walau begitu Lynn Barber mengatakan, bahwa menerima Oscar amat menyenangkan. “ Ini membuktikan bila kemahiran seseorang mendapat pengakuan. Apalagi bil;a menyadari banyak penata rias yang jauh lebih senior, yang belum bisa meraih Oscar. Soal kemashiran dan konor yang melonjak, saya menyadari, bahwa di langit pun tak semua bintang bersinar terang kan ? ,” katanya pada The Hollywood Reporter.

Bruce Stambler, Penata Suara Terbaik dalam Oscar 1996, lewat film The Ghost and the Darkness,- juga tak berani menaikkan tarif setelah meraih Oscar. Kerja Srambler dalam film ini pantas mendapat acungan jempol, karena dia sukses menggabungkan rekaman auman singa dengan sosok singa elektronik dalam film yang menyerupai robot.

Baru dia tahun kemudian dia menaikkan tarifnya, itu pun hanya 15 persen. Dan lagi alasannya memang bukan karena Oscar. “ Selama dua tahun ini semua kebutuhan dan biaya hidup memang telah naik,” katanya.

Piala Oscar memang tak membuat para peraihnya otomatis menjadi kaya raya. Faktor ini tak saja berlaku bagi para peraih Oscar kategori minor seperti tadi, namun juga para aktris dan para aktor itama. Bila sebelumnya mereka tak punya nama beken, susah bagi mereka untuk berada dalam daftar jalur box office.

Walau begitu, Oscar tetap menjadi dambaan para insan film di seluruh dunia ( hal ini nampak dengan terus bertambahnya peserta manca negara yang ingin meraih Oscar dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik ). Bruce Stambler menganggap Oscar cukup penting, sebagai pengakuan atas pekerjaan dan reputasinya. “ Saya tak bisa melupakan saat menjadi pemenang Oscar. Nama-nama beken yang selama ini Cuma saya dengar atau saya baca di koran, menelpon, mengucapkan selamat. Spielberg dan Michael Douglas menelpon saya. Saya masih menyimpan rekaman suaranya,” katanya senang.

Namun toh ada kemungkinan lain, berlalu dalam sunyi. Oscar 2001 yang diraih Marcia Gay Harden untuk Aktris Pembantu Terbaik dalam film Pollock, tak memberi kesan apa-apa. Saat itu dia mengira banyak sambutan menyenangkan dari kalangan Hollywood dan media massa. “ Ternyata semua berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada gemerlapnya sedikitpun,” tuturnya. Ternyata benar bila pepatah mengatakan, di balik sinar matahari ada cahaya yang suram. Dan rasanya benar, bila bintang pun tak selalu bersinar terang.

(Heru Emka )

Sushi nan ‘seksi’


Sejak melihat berbagai jenis sushi yang terpajang cantik dalam display kaca di sebuah resto Jepang di Plaza Indonesia, tiga tahun silam, saya jadi berpikir bila makanan khas Jepang yang indah mungil ini mungkin lebih tepat dijadikan pajangan, daripada menjadi isi perut pengganjal lapar. Tapi bagaimana rasanya menelan daging ikan mentah yang cuma dicelup saos cuka dan dicocol sambal (wasabi ) ? . Rasa penasaran yang cukup kampungan inilah yang membuat saya bergabung dengan milis Jalansutra-nya mas Bondan Winarno, dan tanya sana-sini tentang sushi, dengan anggota milis ini yang hampir semuanya penggemar makanan enak.

Dari mereka saya mendapat gambaran, walau sushi menyajikan sayatan daging ikan mentah, namun rasanya cukup nyaman bagi lidah Indonesia. Cuma, bila sushi itu di dapatkan di restoran Jepang kecil (apalagi restoran cepat saji), maka yang kita dapatkan adalah sushi yang masih menyisakan bau amis ikan. Saran teman Jalansutra ini membuat saya berpikir; apakah sushi yang enak hanya bisa didapat di restoran mahal ? Dan yang ini jelas tidak ‘menyehatkan’ kantong saya. Maka saya pun melupakan hasrat menyantap sushi yang benar-benar unggul dalam rasa dan rupa.

Teman Jalansutra tadi mereferensikan Sushi Sei sebagai restoran sushi yang cukup ekslusif. Namun Jakarta Food Guide menyebutkan bila restoren Jepang di kawasan Plaza Senayan ini tergolong high class, dengan harga yang disepadankan nilai dolar. Walau bung Nirwento, menyarankan,” menu andalan mereka, hotategai dan ikura pantas dicoba,- saya melupakannya dengan alasan yang cukup provokatif : sajian mereka bukan untuk orang kelas bawahan seperti saya.

Namun saat saya ditraktir seorang teman nonton pagelaran Megalitikum Kuantum di Jakarta, bulan lalu, hasrat untuk menikmati sushi mahalan muncul lagi. “ Mas Heru suka sushi ? Besok malam kita cari sushi ya, ada kok yang enak,” kata mas Edwin - sahabat cyber saya sejak empat tahun silam di milis penggemar progressive rock; sepulang nonton pagelaran musik megah itu.

Besok malamnya, mas Edwin sudah menjemput saya. Eksekutif muda yang tergila-gila dengan musik progresif rock ini ( dia punya CD limited edition Jehtro Tull yang harganya sekitar lima juta rupiah – dan di audio room-nya, saya melihat sederetan CD langka dan mahal seperti itu) menuju Sushi Sei di Plaza Senayan, yang terletak di belakang bioskop kelas atas milik Ram Punjabi. Namun nampaknya resto Jepang ini sedang full booked. Mas Edwin melajukan Peugeot 807-nya ke Jalan Kemang Raya, dan berhenti di depan Aozora Sushi Lounge.

Terus terang perasaan kampungan saya muncul lagi, saat dalam hati saya bergumam,” What a felling ?”. Beda dengan suasana di Sushi Sei yangt nampak formal, atmosfir Aozora terasa akrab dan romantis, atau istilah para hang out fans; ‘ cozy bangeet!’. Bunyi piano mengalunkan melodi lagu Misty, yang diciptakan Errol Garner. Mengalun nyaman di telinga. Ternyata sushinya – terutama nigiri zushi dan California Roll – memang empuk dan lezat. Sayatan daging tuna yang berwarna putih lembut itu terasa di lidah seperti daging kelapa muda yang manis-manis gurih. Yah, sepadan dengan harganya, yang 350 ribuan untuk empat potong sushi dengan variasi irisan daging maguro (tuna,) Anago (sejenis belut ), Ebi (udang) dan Ika (cumi cumi).

Bung Edwin menyarankan untuk pertama kali mencoba sashimi, sebagai perkenalan awal dengan berbagai menu sushi. Setelah oke, baru kemudian mencicipi unagi (belut) atau maki (kerang-kerangan). Namun jangan sekali-kali mencoba memesan fugu ( ikan buntal yang beracun ). Apakah restoran sushi di sini juga menjual menu yang selain enak juga mematikan ini ? Yang lainnya saya menetujui bung Edwin, bahwa sushi menawarkan rasa, warna, aroma yang eksotis. Rempah Jepang yang dipakai kan berbeda dengan rempah di dapur ibu kita , kan ?

Bila malam itu, di Aozora saya melihat banyak orang bule pun asyik menikmati sushi, wajar saja, karena sushi sekarang kini menjadi makanan Jepang yang paling tenar di dunia. Seperti mobil dan benda elektronik Jepang lainnya, sushi ‘menyerbu’ Amerika di awal tahun ’70-an. Dalam waktu singkat terdapat sekitar 5000 restoran sushi di seantero AS. Setahunnya tak kurang dari 380 ribu dolar dibelanjakan untuk membeli rumput laut, bahan pembungkus nasi sushi. Perkiraan penghasilan yang diraup dari penjualan sushi, bisa berlipat dua puluh lima kali dari jumlah uang tadi. Tak heran bila The Chicago Tribune (edisi 16 Februari 2000) menurunkan laporan utama yang berjudul ; "Sushi savvy, unwrapping the mysteries of one of Japan's most popular culinary exports."

Menyenangkan untuk dipandang dan dipikirkan

Mary Douglas, dalam bukunya; Food and Social Order (New York 1984) bahwa makanan, selain menjadi sarana pertahanan hidup utama manusia, juga merupakan sebuah domain budaya, yang secara rumit dijabarkan dalam sistem makna yang komplek. Tak heran bila Claude Levy Strauss pun menegaskan, bahwa makanan tak hanya ‘menyenangkan untuk dimakan’, namun juga ‘menyenangkan untuk dipikirkan’. Pendapat Strauss ini benar 100 persen bila dihadapkan pada realitas sushi sebagai hidangan yang fashionable. Tersaji dalam bentuk mungil, rapi dan ‘menyegarkan pandangan’ (catching eye). Rata-rata penampilan sushi jauh lebih ‘seksi’ daripada berbagai hidangan ikan kita, yang dari waktu ke waktu masih disajikan dalam bentuk yang masih seperti dulu.

Sejarah kebudayaan memang membuktikan bila makanan tak saja memanipulasi kita (secara fisik) dengan hasrat untuk makan enak, namun juga memanipulasi kita (secara intelektual) untuk selalu menciptakan berbagai metafora yang selalu meneguhkan eksistensi makanan dalam kehidupan kita. Misalnya konsep hidangan ristafel dalam gaya boga kolonial dulu. Uniknya, sifat yang menyatukan dari makanan ( lebih enak bila dinikmati bareng) membuat makanan cukup penting sebagai simbol sosial, bahkan tak jarang disakralkan ( misalnya kue apem, yang sehari-harinya tergolong sebagai jajan pasar, dalam ritual Jaqowiyyu di Klaten, memiliki citra sebagai ‘benda bertuah’ yang bisa membuat orang awet muda, atau dagangannya laris dan sebagainya)

Secara tradisional, sushi juga memiliki kaitan dengan filsafat Zen, di mana segala hal dalam kehidupan, termasuk makan, harus menyertakan unsur harmoni. Karena itu, konon sushi dibuat dalam ukuran mungil, karena tidak disajikan bagi orang kelaparan, namun orang yang bisa menahan diri, dan mampu menggenggam harmoni. Karena itu, bentuknya harus indah, rasanya harus enak, walau sepenuhnya terbuat dari bahan makanan alami.

Namun saya lebih berpikir bahwa orang Jepang sekarang menjaga citra eksotik sushi karena faktor ekonomi, sebagai komoditas ekspor global, tak ubahnya dengan Coca Cola bagi Amerika. Dan lagi, menurut Global Sushi Guide, tempat yang direferensikan sebagai restoran sushi terenak di dunia, tak lagi berada di Jepang, namun di Los Angeles, AS. Di restoran Los Angeles Dodger, Hideo Nomo - koki sushi yang legendaris – mjemperagakan superioritas masakan tradisional Jepang, dengan gaya dan selera yang disesuaikan dengan lidah para orang kaya sedunia. ( Heru Emka )



Musik Pop Indonesia

“ Musik, gaya hidup, fashion dan identitasnya“


“ Living in the limelight
The universal dream
For those who wish to seem. “

- Rush, Limelight

Setiap kali kita berbicara tentang musik pop (di) Indonesia, kita tak bisa memisahkannya dengan gaya hidup. Bukan saja musik pop, seperti yang diduga oleh banyak orang – menjadi bagian dari gaya hidup kaum muda di perkotaan, namun lebih jauh lagi musik pop sudah dianggap sebagai gaya hidup itu sendiri. Artinya, untuk menikmati gaya hidup heavy metal , anak muda di berbagai kota kecil di Jawa Tengah (misalnya Kendal, Kaliwungu, Batang dan sebagainya ) cukup mengadopsinya dengan memanjangkan rambut, mengenakan kaos hitam berhias sablon bintang metal seperti metallica dan sebagainya, sambil tentu saja mendengarkan musik gfaduh riuh itu sesering mungkin.

Untuk mencebur dalam budaya J-Pop, tak harus mejeng di kawasan Harayuku Street di Jepang sana, namun cukup dengan segenap mengenakan fashion gaya ‘tabrak lari’ yang memadu semua unsur fashion secara kontras dan naïf. Seperti apa yang dikenakan sebagai kostum panggung duo cantik Ratu. Gaya hidup hip-hop girl yang serba seksi lengkap dengan irama -dansa ala Britney Spears berikut gaya fashion mereka yang serba terbuka dan seksi, juga bukan hal yang baru bagi para gadis muda kita, dengan idola mereka; Agnes Monica,- yang akhir-akhir ini dilanda hasrat untuk bisa go international. Di samping itu, kita tahu gaya yang cenderung ‘bohemian’, suka-suka gua dengan wacana pemikiran yang kritis pada beberapa masalah sosial, juga menjadi ‘prinsip’ para pecinta berat Iwan Fals.

Semua ini menunjukkan bahwa musik pop (di) Indonesia kini bukan lagi tampil sebagai sekedar produk budaya pop, yang bermula dari faktor kebutuhan dan pemenuhan ( Di AS bermula dari adanya radio yang butuh materi musik untuk disiarkan, lalu ada perusahaan rekaman yang merekam penyanyi baru, setelah disiarkan jadi beken, diminta manggung di mana-mana, dan menciptakan peluang bagi industri musik untuk memenuhi kebutuhan itu ), namun sudah terkomodifisakisan sedemikian rupa, dari luar-dalam, hingga menjadi seuatu keniscayaan yang tak bisa dilewatkan dalam kehidupan kaum muda kita.


Realitas pop yang artifisial

Hugh Mackay, pada bab Introduction, dalam bukunya tentang kajian gaya hidup dan budaya pop yang cukup berpengaruh ( berjudul Consumption and Everyday Life), menjelaskan setidaknya ada tiga hal yang bisa kita jadikan sebagai cirri atau penanda bagi redefinisi budaya pop dan maknanya dalam kehidupan sehari-hari, yakni : waste/use up ( apa yang masih ngetren atau apa yang sudah ‘nggak’ musim ), pleasure ( sejauh mana lagu pop cukup asyik dinikmati ) , everyday practice ( kaitan dengan pengalaman hidup sehari-hari. Misalnya lirik lagu SMS-nya Trio Macan yang akrab dengan gejala SMS-mania di kalangan anak muda ) dan faktor lain yang cukup terkait, yakni related to our identity ( warna musik atau makna lirik yang dianggap mewakili citra dan hasrat seseorang secara personal ).

Karena itu eksistensi musik pop tak bisa dipisahkan dari gaya hidup dan fashion, sebagai ‘habitat alami’nya. Bahkan keberadaan dua unsur lain itu, gaya hidup dan fashion, akhirnya menjadi satu bagian tak terpisahkan ( istilah ngepopnya satu paket ) sebagai sebuah produk kultur modernisme, dengan segenap bentuk komodifikasinya, yang di era cybernetik ini justru semakin menjadi-jadi.

Konsep pasar musik misalnya, ikut berubah. Bila sebelumnya jaringan pasar musik adalah gerai toko kaset dan berbagai outlet lainnya, dengan produk jadi berupa album kaset atau cakram CD, kini bisnis cyber seperti download lagu dan ring tone menjadi kenyataan pasar yang sebelumnya tak terbayangkan. Artinya citra selebritis yang sebelumnya sudah melebar ke layar kaca ( sesuatu yang bisa dinikmati secara un-real) malah semakin berpotensi untuk menjadi hyper-real. Para Slanker semakin merasa akrab sebagai bagian dari komunitas musik grup Slank secara ‘personal’, karena setiap saat mereka bisa ‘terkoneksi’ dengan Slank atau para personilnya dengan mengakses lewat cara tertentu pada perangkat ponsel. Para pecinta musik pop (di) Indonesia bisa setiap saat menimati lagu, video klip, wall paper, foto-foto, bahkan ‘ngobrol’ dengan bintang idolanya. Bukankah ini merupakan suatu kelebihan yang tak ada sebelumnya. Begitu nyata, sekaligus begitu artifisial.

Jadi, bila bicara soal gaya hidup atau sisi fashioning budaya pop, saya setuju dengan pandangan John Fiske tentang Madonna. Dalam bukunya; Understanding Popular Culture. (New York: Routledge, 1989.),- Fiske menyebutkan bila sukses Madonna menjadi diva musik pop dunia berkaitan erat dengan pendekatan para kapitalis lelaki untuk mengolah semua peluang bisnis yang bisa ditangguk dari sisi seksual dan keperempuanan Madonna. (Madonna as the product of patriarchal capitalism… shows the typically exploitative approach of the capitalist pop music industry, exploitative of both her and her teenage girl fans ). Dengan demikian, secara tidak langsung, para fans Madonna, bagi Fiske merupakan semacam ‘cultural dopes’ . Mereka (harus) ada, dan bila perlu diciptakan sebagai pendorong si artis untuk mencapai puncak perhatian. Untuk itu sang artis berusaha untuk memenuhi apa yang diinginkan para pemujanya.

Bila secara fisik mereka tak bisa hadir setiap saat di antara pemujanya, kini mereka melakukannya secara virtual. Ruang cyber telah menginvasi ruang yang nyata ( perceptual space), di sisi lain tubuh sang artis berkembang menjadi ‘tubuh-media’, mungkin sekali di-klon setiap saat, dengan berbagai cara. Maka jelaslah kutipan sebait lirik lagu dari Rush yang saya tampilkan di atas tadi. Kenikmatan mendapat sorotan lampu popularita tak saja dirasakan oleh si artis, namun juga para penggemarnya yang secara komunal menikmati impian yang didambakan. Bagi si artis, jadi ternama karena banyak pemuja. Bagi si pemuja, merasakan keasyikan (pleasure) karena menjadi bagian dari kemashuran pujaannya. .

Maka budaya musik pop (di) Indonesia sama pekatnya dengan lumpur budaya komersial di kancah global. Soal gaya hidup, fashion, bahkan identitas kluturalnya pun tak bisa dipilah-pilah secara sepihak. Misalnya, jawablah pertanyaan ini : Adakah musik pop yang sepenuhnya berwajah Indonesia ? Ubiet pernah berupaya ketika merekam albumnya yang berjudul Archipelagongs. Niat bagus yang sayangnya tak pernah menjadi bagian dari mainstream musik pop (di Indonesia. Agnes Monica dengan album terakhirnya Waddup A ? lebih bicara dalam idiom musik pop kita. Inilah lingkungan lumpur budaya yang membuat kita setengah mati berenang mencapai air jernih. Dalam budaya hype ini, selebriti memang menjadi penguasa. Taak heran bila kadang ada yang merasa tolol sendiri, seperti Nirvana dalam lagu ini : “ I feel stupid and contagious
Here we are now, entertain us.” ( Smells Like Teen Spirit )

- Heru Emka, pengamat musik dan pekerja seni -


Pemberontakan Noam Chomsky

Blantika perfilman dunia kini makin disemarakkan oleh kehadiran film-film dokumenter yang digarap secara tematik, dan diistilahkan sebagai film docu-drama. Terutama sejak film docu-drama garapan Michael Moore; Fahrenheit 9/11 tampil sebagai pemenang Festival Film Cannes 2004. Sejak menyaksikan kebolehan Michael Moore mengumpulkan seabreg gambar dokumenter yang menampilkan berbagai fakta dan blunder tersembunyi di balik peristiwa 11 September, saya amat terpikat untuk mencari film docu-drama lainnya.

Film dokumenter ternyata telah berkembang tak lagi sekedar menjadi komunitas tersendiri. Kehadiran gaya docu-drama ini membuat genre film dokumenter tampil lebih unik. Bahkan Fahrenheit 9/11 berhasil menciptakan rekor tersendiri : diputar di gedung bioskop dan laris manis tak ubahnya sebuah film cerita garapan Hollywood. Jenisnya juga amat beragam. Mulai dari upaya merekonstruksi kebenaran fakta tewasnya tokoh pemberontak Che Guevara ( The Last Hour of Che Guevara ), upaya memahami makna sosial historis keterlibatan AS dalam Perang Pasifik ( Price for Peace), menyelami dunia pelacuran anak di India ( Born into Brothels ), hingga kisah perjuangan penguin jantan untuk meneruskan garis keturunannya (March of the Penguins ).

Namun yang paling menarik perhatian saya adalah Noam Chomsky : Rebel Without a Pause, sebuah docu-drama tentang Noam Chomsky, cendekiawan kritis yang dikenal dengan ucapannya yang blak-blakan yang kritikan pedasnya terhadap berbagai kebijakan AS sering memerahkan telinga para petinggi di Gedung Putih. Film yang beredar dalam format DVD ini bukanlah film biografi ala Hollywood (biopict) yang diwarnai romantisme tentang kehidupan tokoh yang dikisahkan. Noam Chomsky : Rebel Without a Pause yang digarap oleh sutradara Will Pascoe ini adalah dokumentasi langsung dari serangkaian wawancara, liputan ceramah dan kuliah Chomsky serta komentar beberapa orang yang mengenalnya, termasuk Carol Chomsky, isterinya,- yang membeberkan seluk beluk kehidupan Chomsky sehari-hari.
Noam Chomsky saat ini dikenal sebagai cendekiawan terkemuka, perintis iolmu linguistik modern, seorang filsuf, analis sosial-politik, kritikus media yang tajam, penulis lebih dari 70 buku, pemenang beberapa anygerah dan penghargaan ilmiah. Bahkan para pengagumnya menjajarkan Chomsky dengan Marx, Shakespeare. Buku yang ditulis oleh profesor di MIT ini pun tergolong dalam 10 buku humanisme yang paling sering dikutip. Dia juga dipujikan sebagai "one of the world's leading voices of dissent." Karenanya dokumentari tentang Chomsky dan berbagai makna histories penting dari era paska serangan 11 September, yang menjurus pada Perang Irak, jadi bagian yang menarik untuk disimak.

Karya Chomsky sendiri sepertinya belum banyak dikenal di sini. Namun saya cukup terkesan dengan beberapa ucapannya yang dengan tajam menyindir kapitalisme AS yang semakin rakus, misalnya; “ If I'm analyzing capitalism and I point out that General Motors tries to maximize profit, that's not a conspiracy theory. That's analysis.”

Sutradara Will Pascoe memberikan pernyataan tersendiri, tentang kenapa dia membuat film Chomsky yang lain ? Pertama, menurut Pacoe,- gagasan politik Chomsky belum tersebar secara luas. Kedua, sutradara ini ingin memahami kenapa pikiran Chomsky masih seperti saat dia berada di pertangtahan tahun ’70-an, di mana dia mengkritik banyak kebijakan AS yang salah kaprah. Pascoe menjelaskan bila dia ingin mendokumentasikan pemikiran yang menonjolkan isu-isu dunia, langsung dari cendekiawan yang merasa terlibat, sementara sebagian besar cendekiawan lain memilih bungkam seribu bahasa.

Untuk itu Pascoe dan awak filmnya rela mengikuti Chomsky, yang sepanjang Nopember 2002 melakukan kuliah keliling di Kanada. Karena itu, dalam film docu-drama ini, walau pemikiran dan kritikan Chomsky cukup tajam, nampak disampaikan dalam gaya yang santai dan akrab, suasana ruang kuliah yang sejuk atau auditorium ilmiah (lecture halls ) yang padat pendengar. Di sini nampak betapa Chomsky dengan sabar membeberkan analisisnya, memberikan jawaban jitu pada pertanyaan-pertanyaan yang menguji analisisnya. Tentang menipulasi media, hasratnya menbgkritik kekuasaan, turingan tentang akar sentimen anti-Amerika, serta penekanan pentingnya aktifitas sosial sebagai penyeimbang pemerintah dan pengawas demokrasi ( the need for social activism to maintain a balanced and genuine democracy )

The New York Times menyebut Chomsky sebagai ‘intelektual terpenting saat ini’ ( the most important intellectual alive ) saat dia bicara blak-blakan soal serangan 11 September, perang AS melawan terorisme, manipulasi media massa, perang Irak dan berbagai peristiwa sosial yang melibatkan pemerintah AS. Keberanian Chomsky untuk mengkritik kebijakan pemerintah AS secara terbuka bahkan dianggap sebagai kibaran bendera pemberontakannya sebagai seorang ilmuwan. Dan ini dimulai sejak dia menilai sikap AS yang menjadi provokator agar Indonesia menyerang Timor Timur.

Film Rebel Without a Pause ini tak saja memancarkan kecerdasan Chomsky dan kekuatan ingatannya sebagai orang yang setiap hari membaca enam koran , namun juga menunjukkan bila dia memmang menjalankan kewajiban akademiknya sebagai seorang cendekiawan. Dia menekankan bila dunia akademik sesungguhnya melatih seseorang untuk berpikir kritis, dan menjawab semua permasalahan dunia dengan pikiran kritisnya. Chomsky memutuskan bila dia tak keberatan disebut sebagai pemberontak intelektual, bila dia harus berbeda sikap dan pemikiran btentang kebijakan pemerintah AS yang merugikan kepentingan dunia luas., seperti yang diungkapkan sendiri oleh Chomsky dalam kuliahnya di Ontario's McMaster University, saat Amerika menginvasi Irak di tahun 2003 kemarin.

Film dokumenter ini juga menampilkan wawancara dengan sahabat dan teman diskusi malam Chomsky, yakni Graeme McQueen, professor ilmu Kajian Agama ( Religion Studies) di McMaster University, yang menuturkan asal usul pemikiran kritis Noam Chomsky. McQueen juga berkata, ada baiknya bila Chomsky kini terkenal seperti ‘bintang musik rock’ karena ‘dia benar’ saat berkata tentang kondisi yang memicu serangan 11 September. Profesor ini juga menyodorkan fakta bahwa Chomsky termasuk dalam daftar Sepuluh Besar tokoh kesenian dan kemanusiaan . “ Dia berada di urutan ke delapan, setelah Frued dan sebelum Hegel. Dia bergabung bersama nama besar lainnya seperti Marx, Lenin, Shakespeare, Aristotle, dan Cicero.”

Sebelumnya sudah ada dua film tentang Chomsky, yakni Noam Chomsky – Distorted Morality: America's War on Terror? (Wea Corp, 2003) dan Manufacturing Consent – Noam Chomsky and the Media (1993), garapan sutradara Mark Achbar dan Peter Wintonick, yang dilengkapi dengan fitur menarik; diskusi Chomsky dengan Michel Foucault di tahun 1971. Dan semua film tentang Chomsky ini, ternyata laris manis di pasaran. Film docu-drama seperti ini, menambah sisi positif bagi blantika film komersial yakni memberi sudut pandang yang lebih luas bagi wawasan kita. (Heru Emka )

Nietzsche di Tengah Mall


Affa ( 26 tahun) mungkin pantas men jadi citra ‘ideal’ gadis manis masan kini, seperti yang sering muncul dalam berbagai film iklan kita. Selain cantik ( wajahnya mirip dengan Titi Kamal – malah tubuhnya lebih seksi dan berisi ), dengan kulit yang bersih mulus. Tak heran bila pacarnya bilang, walau dia cemberut, wajahnya masih sedap dipandang. Dan Affa baru saja memborong baju terbaru dari gerai Mango di Singapura. Tiga style-jeans

Mango dia bawa. Salah satunya dengan bahan corduray ala retro, yang dulu dikenal dengan model cutbray. Bukan itu saja, ada lagi, blus sutra model menyilang rancangan An

tonio Marras, yang kini menjadi direktur artistik rumah mode Kenzo. Saat Affa mencoba blus yang bermotif happy floral itu dengan style-jeans hitam bersulaman bunga merambat sepanjang paha hingga lurut Affa yang indah,.. hmmm…tercipta sudah gaya boho yang membalut tubuh ranum yang indah. Dari celetukan Affa dan mamanya, nampak bila setelan yang khusus dicari di kawasan Orchard Road itu akan menjadi ‘kostum’ pesta ulang tahun teman, yang sepakat memilih gaya boho (bohemian style) sebagai dress code-nya.

Lantas kenapa si cantik kesayangan keluarga kaya yang tinggal di kawasan Pondok Indah ini cemberut ? Dari celetukan mereka juga, saya dengar bila si Amenita (teman Affa),- ternyata tak mengajaknya saat menemukan gaun FCUK di Plaza Senayan.. Padahal Affa sudah lama ingin punya baju berlabel ini. Oh ya, FCUK ( singkatan dari French Connection UK ) – lagi naik daun ini memang ditujukan bagi kaum muda yang merasa dirinya ‘kontemporer’ dan ingin tampil beda. Busana FCUK ini selalu tampil dalam disain berani, dengan warna-warna ngejreng, seperti biru neon, shocking pink dan warna lain yang membuat penampilan pemakainya lebih cerah.

Hanya karena ingin menginap di rumah Rudi, seorang bomber ( julukan khas bagi pelukis grafiti - yang juga sesama milis pecinta musik klasik rock) ,- saya ‘kesasar’ di kalangan kelas atas di Jakarta. Melihat penampilan Rudi, yang ‘cuma’ bersepatu basket (Nike), jean lusuh dan kaos punk distro, serta ransel yang berisi buku sket graffiti dan lima kaleng cat semprot,- orang tak menduga bila orang kaya. Tapi memang hak Rudi bukan, bila dia ingin berpenampilan miskin ?

Ritual gaya hidup

Saat ‘kesasar’ di rumah orang kaya itulah , saya melihat ada tren tersendiri yang mereka persiapkan untuk mengisi liburan, yakni berbelanja. Aktifitas belanja ini dirancang cermat, tak ubahnya ritual tersendiri bagi gaya hidup mereka. Sejak awal mereka mencari informasi berbagai produk yang akan dibeli saat melakukan perjalanan belanja ke mancanegara. Saya lihat berbagai katalog produk konsumsi yang serba mahal, berbagai peralatan dapur dari perak, katalog furniture - baik yang bergaya Barok atau aneka disain futuristik yang minimalis. Brosur lainnya menawarkan arloji dan perhiasan mahal, lampu kristal, serta katalog terbaru dari berbagai rumah mode beken ternama : Fendi, Burbery, Hermes, Celine. Di sebuah meja cocktail di sudut ruang tamu, saya lihat sebuah tas Birkin Hermes hijau muda (yang agaknya sudah jarang dipakai) .

Bagi kalangan berduit, musim liburan adalah musim belanja. Sebuah musim bunga meriah bagi konsumerisme. Pengamat gaya hidup seperti David Chaney menyebut bila kaum berduit, yang sebelumnya mendapat predikat orang kaya baru setelah menemukan kesempatan untuk ikut dalam perubahan ekonomi yang vertikal, membutuhkan gaya hidup yang sepadan untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Dan bicara soal gaya hidup, penampilan tentu saja menjadi bagian intinya. Tak heran bila suasana kehidupan sehari-hari mengalami estesisasi. Harus lebih indah, lebih beda. Tubuh dan ruang (rumah, mobil dan sebagainya ) pun menjadi obyek yang tiada habisnya untuk didandani, diberikan citra mewah dan ekslusif. Para pemodal dan penjual sama-sama menyambut hangat, dengan menjadikan mall sebagai titik kepekaan, Cobalah amati, bukankah mall tak lagi sekedar tempat berbelanja yang representatif, namun sudah menjadi bagian lingkungan, di mana diri mengalami transformasi, dari seorang pengunjung menjadi konsumer. Soal apakah transformasi ini mampu memberikan kebahagiaan yang mereka cari, berhasil mewujtkan apa yang mereka impikan, atau hanya sebatas membeli komoditi, itu soal nanti.

Khotbah agung konsumerisme

Yang jelas meraih keuntungan (dengan tanpa henti menciptakan magnit baru bagi mimpi-mimpi konsumerisme) adalah moda para kapitalis yang meniru dalil Descartes dengan menciptakan semboyan baru, modern cogito; “ Aku berbelanja, karena itu aku ada” ( "I consume therefore I am."). Neil McKendrick dalam The Birth of a Consumer Society (London: Europa, 1982), menyebutkan, hasrat dan katakjuban berbelanja ini kadang dihayati sebegitu rupa, tak ubahnya hasrat penebusan dosa. Pendapat sosiolog dan pakar kajian budaya ini sepenuhnya benar. Di mall gemerlap seperti Sogo Plaza Senayan, saya banyak melihat wajah-wajah yang begitu khusuk memandang produk bermerek dan menenggelamkan diri dalam khotbah agung konsumerisme.

Pengamatan yang lebih jitu ditampilkan oleh Daniel R. White dan Gert Hellerick dalam esainya; Nietzsche at the Mall: Deconstructing the Consumer. Disebutkan bahwa fesyen akhirnya tampil sebagai kekuatan sosial yang tak terduga. Fungsinya tak saja efektif sebagai tanda keberhasilan ekonomi, namun juga sebagai praktek rekayasa sosial. Hal ini tak saja melibatkan selera, perilaku sosial dan identitas personal kalangan kelas atas sebagai konsumer, namun fesyen kadang menjadi anak tangga tersendiri, sejenis pijakan untuk beranjak dari inferioritas sosial.

Karena itu, Nietzsche yang begitu gigih mendefenisikan eksistensi, pasti akan gusar bila dia sekarang berada di sebuah mall. Dia akan mengerutui kedangkalan dan kemunafikan gaya hidup ini, seperti yang diucapkan Niezsche dalam Will to Power, "There exists neither 'spirit,' nor reason, nor thinking, nor consciousness, nor soul, nor will, nor truth: all are fictions that are of no use" Eksistensi gaya hidup mall ini bagi dia serba mertanggung, mengambang dan tak berguna.

Untunglah tak semua orang kaya konsumtif, walau itu hak asasi mereka juga sebenarnya. Rudi misalnya, yang bersemboyan; “ You’re happier than you think,”- lebih suka membelanjakan uangnya untuk membeli sekian puluh tabung cat pylox, untuk digunakan bersama para bomber lainnya. Seperti malam itu, HP-nya berbunyi, dan seorang bomber lainnya mengabarkan ada sebuah spot di kolong jalan layang di kawasan Pancoran. Saat itu menjelang tengah malam, kami menuju ke sana (menurut saya, daerah itu cukup rawan penodongan). Toh Rudi dan keenam kawannya cuek saja. Mereka mulai ‘ngebom’, merubah dinding kusam menjadi sebuah ruang ceria, dengan semprotan cat yang membentuk ekspresi seni jalanan. Bentuk ekspresi yang menggeliat, menolak kemandegan yang mampat.

(Heru Emka, penyair dan peminat kajian budaya.)